Peureulak – Centeng atau penjaga kebun milik PT Ataka di pendalam Peureulak, Aceh Timur, kritis dibacok. Motif pembacokan diduga karena korban sering melarang warga mengambil sawit milik perusahaan tersebut.

Korban Hamdani bin Taher, 37, warga Gampong Alur Canang, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, bersimbah darah setelah diparangi Abdullah, yang juga warga sekampung dengan korban.

Hamdani dibacok tiga hari lalu saat duduk santai di sebuah warung di kampungnya. Tiba-tiba, dari belakang datang Abdullah dan langsung mengayunkan parang ke bagian punggung Hamdani.

Sabetan parang membuat tubuh Hamdani gemetar hebat hingga darah segar terus keluar dari punggungnya. Hamdani mampu kabur dari Abdullah sambil memegang bagian badannya yang dibacok.

“Ia terus berlari dan meminta tolong kepada warga. Pelaku juga mengejar Hamdani. Beruntung dia cepat ditolong warga, sehingga membuat nyali Abdullah kecut dan balik melarikan diri,” kata seorang warga.

Nuraini, 34, istri korban di RSU Langsa, mengatakan, suaminya diselamatkan warga dan membawanya menggunakan sepeda motor ke Pustu Krueng Tuan, Kecamatan Ranto Peureulak.

Ia mengatakan, ketika si pembacok kabur, ia lari menuju kebun milik mereka. “Semua pohon cokelat suami saya juga telah ditebang. Pelaku bersama komplotannya selama ini memang tidak senang dengan sikap suami saya,” ungkap Nuraini.

Polisi yang menerima laporan pembacokan itu langsung turun ke lokasi mengejar Abdullah. Namun, hingga kini Abdullah belum berhasil ditangkap.

Hamdani baru dua bulan menjadi di perkebunan milik PT Atakana. Hamdani sering melarang orang-orang atau komplotan ninja mencuri sawit. Ia juga memberitahukan kepada agen agar tidak membeli tandan sawit hasil curian komplotan ninja.

Kapolres Aceh Timur, AKBP Drs Ridwan Usman yang dikonfirmasi wartawan membenarkan pihaknya telah menerima laporan tersebut. Namun, saat ini pihaknya sedang memburu pelaku pembacokan tersebut.(*/ha/sri)

KOMENTAR