DAHULU ketika emansipasi belum menjadi isu hangat dimuka bumi pertiwi, Cut Nyak Dhien dan Malahayati telah berdiri sejajar dengan kaum lelaki. Jauh di ujung sumatera telah tertulis kisah heroik mereka yang layak dikenang sebagai teladan bagi seluruh kaum wanita di seluruh negeri. Mereka telah membuktikan bahwa wanita adalah makhluk yang disegani dengan keanggunan pekerti dan kegigihan.

Agaknya nilai-nilai inilah yang tertanam dalam diri Nuriah dan Nurjanah, kakak beradik yang mengelola usaha fotokopi “Baladi” di Jalan Kober, Kota Depok, Jawa Barat.

Tanpa kenal rasa takut, Nurjanah dan Nuriah datang mengadu nasib ke Pulau Jawa meskipun mereka adalah wanita. Tentu hal ini agak mencengangkan bagi sebagian kita yang terlanjur mengecap bahwa wanita haruslah lebih banyak berkutat pada 3 UR (dapur, sumur, kasur).

Nuriah mengisahkan bahwa perjalanan dalam merantau tidak mudah. Awalnya ia dan adiknya harus terlebih dahulu bekerja pada orang lain sebelum seperti sekarang ini yang mencoba merintis usaha sendiri dengan modal kecil-kecilan. Akan tetapi ia tetap bersemangat.

Dua bersaudara, Nurjanah dan Nuriah memang tidak berpendidikan tinggi, mereka hanya lulusan SMA. Akan tetapi mereka berdua bukanlah lulusan SMA biasa. Ketika anak-anak lain khususnya wanita di Aceh takut untuk menginjakkan kaki di perantauan, maka Nurjanah dan Nuriah tidak demikian.

Bagaimanapun, sesama yang merantau ke sini, ataupun berkunjung ke tempat anak yang lagi kuliah, kalau aja saya kenal, pasti saya anggap saudara

Fenomena yang kerap terjadi saat ini banyak yang merantau ke kota besar tertular dengan individualisme parah yang menuntunnya pada ketidakpedulian pada lingkungan sekitar, maka hal ini tidak berlaku dengan dua inong Aceh asal Pidie tersbut.

Nurjanah dan Nuriah terlihat sangat peduli pada sekelilingnya. Dalam artian mengenal dan dikenal oleh lingkungan di sekitar tempat usahanya mereka. Namun ada hal yang sedikit unik, dari kedua sosok adik kakak ini, Nurjanah dan Nuriah tidak disapa dengan panggilan “kak” atau “bu”, tetapi lingkungan sekitarnya memanggil mereka dengan “uni” (sapaan kakak dalam bahasa minang, -red).

Mengelola Usaha

Sehari-hari aktivitas yang dilakukan oleh dua wanita ini tak lain adalah mengelola usaha fotokopi, tapi bagi Nurjanah ternyata juga merangkap jabatan menjadi salah satu guru pada sebuah tempat pendidikan Playgroup, lingkungan setempat.

Profesi ini sudah ditekuni selama 10 tahun. Tidak kalah dengan “karirnya” dibidang usaha fotokopi. Nurjanah dan Nuriah juga menceritakan bagaimana awal perantauan mereka ke Depok, dulunya hanya berjumpa sedikit sekali orang-orang Aceh, sehingga suasana merantau benar-benar mereka rasakan.

Akan tetapi satu hal yang sampai saat ini masih tidak hilang dari mereka ialah, rasa senang sekaligus merasa bersaudara jika saja ada orang yang diketahui berasal dari tanah kelahirannya, Aceh. “Bagaimanapun, sesama yang merantau ke sini, ataupun berkunjung ke tempat anak yang lagi kuliah, kalau aja saya kenal, pasti saya anggap saudara”, kata Nurjanah menambahkan.

Sosok Inong Aceh Yang Sederhana

Nurjanah dan Nuriah merupakan dua sosok wanita Aceh yang sederhana dalam ucapan, namun luar biasa dalam tindakan. Lebih dari itu, kakak beradik yang lahir di Teupin Raya, Pidie itu mampu menunjukkan bahwa masih ada Cut Nyak Dhien dan Malahayati lain yang akan menunjukkan keanggunan dalam kegigihan dan keberanian.

Mereka tidak pernah meminta untuk setara dengan pria agar mereka mampu berkarya dan dianggap disekelilingnya. Akan tetapi setiap orang akan segan dan menghargai mereka sebagai dua sosok wanita yang luar biasa dengan apa yang telah mereka lakukan.

Menggunakan cutter, alat pemotong kertas, membolak-balik ratusan halaman buku, dan juga mengoperasikan mesin fotokopi tentu merupakan hal yang harus dilakukan dengan sangat cermat oleh kedua kakak beradik ini. Namun, kedua-duanya juga mahir dalam jahit menjahit.

Sesekali ketika menunggu datangnya pelanggan fotokopi mereka menyelesaikan jahitan pakaian dari pelanggan lain. Sungguh sesuatu yang mengagumkan dimana menjahit pakaian pun masih tetap bisa dilakukan di sela-sela kesibukan mengelola usaha fotokopi dan mengajar.

Kegigihan dan keberanian mereka tentunya mengingatkan kita pada sosok wanita pujaan Aceh, Cut Nyak Dhien. Meskipun harus memegang rencong di tangan kanan untuk berperang melawan Belanda, namun tangan kiri tetap menimang sang buah hati seraya bersenandung lantunan syair do da idi.

Apa yang dilakukan Nurjanah dan Nuriah tentunya belum sebesar dengan apa yang dilakukan Cut Nyak Dhien pada masa itu. Tetapi, dua inong Aceh perantau ini telah mempu merepresentasikan pada kita bagaimana tangguhnya seorang wanita jika mereka memilih untuk menjadi tangguh dan bukan hanya mengharapkan belas kasihan melalui berbagai bentuk perjuangan yang meminta disetarakan.

Image is reality, wanita akan dianggap lemah dan kurang mampu berdikari jika mereka memancarkan citra yang demikian. Citra yang menunjukkan pada kelemahan dan harapan untuk dikasihani. Padahal pada kenyataannya, penghargaan pada mereka terletak pada pada bagaimana mereka mampu memngaktualisasikan sisi keanggunan wanita di balik kegigihan dan keberanian kaum pria.

Bukan mengharapkan diperlakukan sepeti pria karena merasa seperti makhluk kelas kedua. Ketika para wanita mampu menunjukkan pesona wibawa melalui apa yang dilakukannya maka saat itulah sebenarnya tidak aka nada yang mampu memandang rendah dan meremehkan mereka.

Hal inilah yang ditunjukkan Nurjanah dan Nuriah pada kita semua, bahwa selayaknya pria, wanita pun harus mampu menunjukkan prestasi mereka melalui berbagai bidang tanpa harus melupakan apa yang telah menjadi kodratnya. Selain itu bukan pula merasa bahwa kodrat yang dimilikinya membuatnya tak mampu melakukan hal yang lebih besar dari kaum pria.[]

KOMENTAR