Diskusi publik RJ Nix di Universitas Almuslim Matangglumpangdua (Kompas.com) SOSOK Lieutenan Colonel R.J Nix (77), mantan Tentara Kavaleri Kerajaan Belanda yang pada masanya dikenal ahli strategi militer, menjadi sorotan saat mengungkapkan kekagumannya pada kegigihan rakyat Aceh dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Ungkapan itu ia uraikan terperinci saat hadir sebagai salah satu pembicara dalam Diskusi Publik Internasional, bertemakan “The Dutch Colonial War in Aceh”, Sabtu, (11/1/2014) kemarin, di Aula M.A Jangka, Universitas Almuslim, Bireuen. Kegiatan tersebut digelar atas prakarsa dua perguruan tinggi di Bireuen.

Sebagai pensiunan Angkatan Darat dengan pangkat Letnan Kolonel, R.J Nix, mengatakan, invasi Belanda ke Aceh merupakan kesalahan besar dan justru merugikan Belanda sendiri.

Bukti kerugian itu dibuktikannya dengan keberadaan perkuburan Belanda di Peutcut (Kerkoff Banda Aceh) yang berjumlah 2.200 kuburan tentara KNIL.

Mengaku dilahirkan di Geumpang, Pidie, Aceh, orangtua Lieutenan Colonel R.J Nix, fasih berbahasa Aceh.

“Ayah saya Mantan Komandan Tentara Marsose di Geumpang, Pidie, yang kagum kepada pejuang Aceh yang begitu gigih dalam memperjuangkan dan mempertahankan Tanah Airnya,” katanya.

Saat ini Nix menjabat sebagai Ketua Yayasan Perkuburan Peutcut (Kerkoff) Banda Aceh, namun berkantor di Belanda.

Dalam diskusi kemarin, Nix sempat memperlihatkan 400 gambar termasuk peta wilayah Aceh di masa Kolonial Belanda.

Selain R.J Nix, hadir pula Rusdi Sufi, Peneliti dan Sejarawan, Nurdin Abdul Rahman, mantan Bupati Bireuen, T.Kemal Pasya, Dosen Fisip Unimal.

Ketua Panitia, Muhammad Diah menyebutkan, tujuan digelarnya diskusi publik ini adalah untuk memetakan sejarah tentang heroiknya perjalanan rakyat Aceh dalam melawan kolonial Belanda untuk merdekanya bangsa Indonesia. (kompas)

KOMENTAR