Yogyakarta – Hampir tak ada yang tak mungkin dengan ilmu dan pengetahuan ditambah berpikir kreatif. Limbah saja bisa menjadi barang yang berguna.

Tengok saja apa yang dilakukan peneliti Pusat Studi Lingkungan Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Nelly Marlina. Limbah pohon salak dapat dimanfaatkan sebagai kompos atau pupuk organik dan mikro organisme lokal.

“Limbah salak yang dapat dijadikan kompos atau pupuk organik adalah dahan salak, salak busuk, dan buah salak,” katanya di Yogyakarta, Ahad (15/4).

Untuk membuat kompos, ada beberapa bahan yang perlu disiapkan, di antaranya sampah lapuk sekitar 2-4 meter kubik, 6,5 meter kubik limbah salak, 750 kilogram kotoran ternak, dan 30 kilogram abu dapur.

Selain itu juga perlu disiapkan media untuk pencampuran bahan-bahan tersebut dengan membuat bak pengomposan dari bahan semen atau dengan menggali lubang.

“Aduk semua bahan menjadi satu kecuali abu. Masukkan ke dalam bak pengomposan setinggi satu meter tanpa dipadatkan, kemudian bagian atas tumpukan bahan tersebut ditaburi dengan abu,” katanya.

Ia mengatakan, kemudian tampung cairan yang keluar dari bak. Siram ke permukaan campuran untuk meningkatkan kadar nitrogen dan mempercepat pengomposan.

“Sekitar 2-3 pekan kemudian, balik-balik bahan kompos setiap pekan. Setelah 2-3 bulan kompos sudah cukup matang, selanjutnya kompos dijemur sebelum digunakan hingga kadar airnya tinggal 50-60 persen saja,” katanya.

Selain bermanfaat untuk pembuatan kompos, menurut dosen Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) itu, limbah salak juga dapat digunakan sebagai mikro organisme lokal.

Mikro organisme lokal dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair, dekomposer untuk pembuatan kompos, dan dapat digunakan sebagai pestisida nabati untuk mengusir hama. “Komposisi cara pembuatan mikro organisme lokal dapat berupa buah salak yang sudah busuk sebanyak lima kilogram, air kelapa 10 butir, dan gula merah satu kilogram,” kata Nelly (Ant/BEY)

KOMENTAR