Bireuen — Bagi para pencinta kuliner yang sedang berada di daerah Bireuen, Aceh jangan lupa mampir ke kota kecil Matangglumpangdua, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, yang kira-kira terletak 12 kilometer dari arah timur pusat Kota Bireuen. Perjalanan ke sana memakan waktu 15 menit, apalagi sekarang lalu lintasnya sudah lebar dan mulus.

Adzar (43) salah satu pengunjung tetap sate khas matang mengatakan “Matang memang kota yang sangat strategis dan selalu ramai di malam hari. Pada waktu konflik bercekamuk, Kota Matang tak pernah sepi, karena itu mungkin Matang sering dijuluki kota yang tak pernah mati,” katanya saat ditemui HIMPALAUNAS.COM beberapa waktu lalu.

“Soal kuliner, Matang sangat terkenal dengan sate tusuk, mau daging sapi atau sate kambing juga ada. Bagi yang menderita darah tinggi, saya sarankan mencoba sate daging sapi deh. Siapa tau salahatelah mencicipi lezatnya daging kambing bakar sesaat, Anda harus berbaring di rumah sakit,” tambahnya.

Sate Matang sudah bergema di setiap kota di seluruh Aceh, Medan bahkan Jakarta. Di mana ada masyarakat Aceh bermukim di kota-kota besar di Indonesia, pasti ada gerobak sate Matang.

Hmm… ngak sabaran nie pingin menguyah sate. Soalnya, saya sudah lama tidak memanjakan lidah dengan sate Matang. Kalau lama-lama dipendam ngilernya minta apun, bisa-bisa ngences. Memang untuk menikmati sedapnya sate matang yang betul-betul olahan dan bumbu dari Matang, saya mesti pergi ke Matangglumpangdua. Di Banda Aceh, banyak gerobak-gerobak yang menempelkan stiker “Sate Matang”, tapi rasanya ingin makan lebih meunyeum atawa meurasa ya di Matang.

Untuk melepas rasa ngiler sate matang, saya biasa mangkal di Café Niagara, Jambo Tape. Sate olahan orang Matang juga tapi bumbu Banda Aceh, memberikan rasa yang berbeda.

Dia pun menjadi tempat alternatif saya melepaskan rasa rindu sate. Bukan hanya saya, Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, Mantan Ketua DPR RI, Akbar Tandjung dan tokoh-tojoh lain pada kesempatan kunjugan ke Banda Aceh, mencoba sate Matang di sini, jadi tak salah kalau sate matang itu sangat lezat, dan terkenal seantero nusantara.

Suara bantingan botol kecap pada meja terdengar memanggil, seraya asap bakaran sate yang mengepul dari tungku berbara menyala makin sedap aja rasanya, dan perlahan saya berjalan masuk bedesakan dengan orang-orang yang singgah untuk makan malam setelah menenpuh rute Banda Aceh-Medan.

Satu porsi, berisi satu piring nasi, satu piring sate, satu piring bumbu kacang dan satu piring soto. Satenya besar-besar, sebesar ibu jari, satu tusukan berisi empat daging sapi cincang. Soal rasa, hhmmm lezat minta ampun, apalagi bumbu kacangnya sangat terasa dilidah, pokoknya meunyeum that deh, soal harga tidak menguras kantong cukup Rp 15.000,- rupiah saja perporsi, murah sekalikan ? Ayo tunggu apalagi silahkan mencoba! (afi/has/himpalaunas)

KOMENTAR