Bireuen — Banyaknya dayah di Aceh semakin memperkuat asumsi tentang gemilang masa lalu bumi Iskandar Muda dari aspek pendidikan ke-Islaman. Samalanga sebagai salah satu kecamatan atau kota tertua di Aceh, sejak lama telah memiliki dayah (wadah pendidikan Islam) dalam kuantitas yang relatif banyak.

Perkembangan aspek pendidikan Islam hingga hari ini tentunya merupakan proses keberlanjutan dari masa sebelumnya, meskipun belum ada pembuktian literatur tentang itu. Sebagai kawasan yang pernah menjadi pusat pengembangan Islam di masa pemerintahan Iskandar Muda, layak kiranya ditulis tentang keberadaan sebuah Dayah yang kian menarik di sana.

Jika orang menyebutkan nama Samalanga, maka serta merta yang terpatri dalam ingatan banyak orang terhadap sebuah “kota santri” yang bernuansa keceriaan anak-anak penuntut ilmu agama di sejumlah dayah yang ada di sana. Tak dapat dipungkiri, Kecamatan di ujung barat Kabupaten Bireuen ini menjadi salah satu tujuan para orangtua di Aceh, untuk mengantar anak-anak mereka menuntut ilmu agama untuk kemudian diabdikan di tengah masyarakat.

Salah satu dayah tertua di Aceh adalah Ma`hadal Ulum Diniyyah Islamiyyah (MUDI) Mesjid Raya berlokasi di desa Mideuen Jok Kemukiman Mesjid Raya, Kecamatan Samalanga. Di bawah pimpinan Tgk H Hasanoel Bashry, Dayah Mudi terus mengembangkan diri bukan saja pada dayah salafi semata, namun juga membuka diri terhadap pendidikan agama umum. Tak pelak lagi, di depan kompleks Dayah Mudi tersebut, berdiri megah sebuah perguruan tinggi Islam, yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam dibawah yayasan Al-Aziziyah atau yang dikenal dengan STAI Al-Aziziyah. Gedung berlantai empat yang merupakan kampus induk STAI Al-Aziziyah seakan menjadi pertanda bagi bangkitnya kembali romansa sejarah masa lalu, ketika Sultan Iskandar Muda meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Raya, sebagai cikal bakal berdirinya dayah Mudi Mesra kala itu.

Halim Mubary, seorang pendidik di perguruan tinggi tersebut banyak memberi input, bahwa sebagai penggagas dan sekaligus pendiri STAI Al-Aziziyah, Tgk H Hasanoel Bashry mengingatkan bahwa signifikansi pendidikan agama kepada ummat dinilai penting supaya ummat tidak tercerabut dari akar aqidah dan syariah serta tetap memiliki kemampuan untuk menghadapi kemajuan zaman. Pada hakikatnya sistem pendidikan Islam adalah sistem pendidikan menyeluruh meliputi ilmu-ilmu yang dikategorikan sebagai fardhu `ain dan fardhu kifayah. Dalam sistem pendidikan menyeluruh ini kesemua cabang ilmu pengetahuan baik yang bersifat keagamaan dan keduniaan diarahkan kepada tujuan-tujuan agama. Dengan demikian, semua cabang ilmu pengetahuan akan mengalami proses Islamisasi. “Islamisasi ilmu adalah salah satu strategi untuk mengejar ketinggalan ummat Islam. Argumentasi ini pula yang telah mendorong negara-negara Islam membentuk universitas-universitas Islam bertaraf internasional di mana Islamisasi ilmu pengetahuan diterapkan di sana,” kata Abu Mudi, sapaan akrab Tgk H Hasanoel Bashry, suatu ketika.

Lokasi dayah Mudi Mesra dan STAI Al Aziziyah sebagai titik kolaborasi pendidikan tinggi umum dan pendidikan Islam tidak saja berperan sebagai tempat khusus yang hanya melayani santri dan mahasiswa. Tempat itu telah melayani banyak pengunjung yang menikmati suasana. Dengan jumlah mahasiswa yang berkisar 5000-an, serta santri yang ribuan jumlahnya, lokasi itu semakin ramai dikunjungi. Terlebih lagi pada hari Jumat dan Minggu. “Bank BPD menambah jam kerja untuk melayani santri dan mahasiswa pada hari Jumat,” kata Tgk Muntasir A Kadir, Ketua STAI yang setiap hari menikmati hari-hari sibuk bersama anak didik.

Layaknya sebuah lokasi wisata, tempat itu bersih dari sampah. Tak jarang para pengunjung yang datang disapa dengan senyuman oleh para santri dan mahasiswa di situ. Begitupula para penjaja di beberapa toko dan warung kopi yang tiada henti melayani pengunjung. “Hari-hari biasa pengunjung yang duduk di sini cuma 50 sampai 100 orang saja,” kata penjaga warung di samping gedung utama STAI.

Lain lagi cerita ibu penjaga toko sovenir di sebelahnya. “Banyak tamu dari Malaysia yang membeli jilbab dalam jumlah besar di sini,” katanya. Memang toko sovenir dimaksud belumlah seperti yang terdapat di kota-kota besar. “Tapi jenis barang-barangnya sudah mendukung keberadaan lokasi layaknya sebuah kota wisata Islam,” kata Pocut Haslinda, salah seorang pengunjung dari Jakarta. “Coba lihat, mukena, jilbab, sajadah, celak Arab, siwak, tasbih, dan lain-lain tersedia di sini, dan terpenting harganya terjangkau,” sambungnya lagi.

Hal itu dibenarkan Tgk Muntasir, “Harga barang-barang kebutuhan syiar Islamiyah di sini terjangkau oleh masyarakat,” katanya. Kondisi ini menjadikan  Desa Mideuen Jok memiliki daya tarik tersendiri. Banyak pengunjung yang datang duduk-duduk santai di kedai minuman depan dayah ingin berlama-lama.

Betapa tidak, di warung itu tersedia teh tarek, kopi arabika, dan aneka jus lainnya. “Ya, asyik menikmati suasana para anak-anak hilir mudik dengan pakaian muslim atau muslimah, juga mendengarkan pelajaran agama di balai terbuka” kata seorang tamu dari Banda Aceh.

Persoalan orang-orang datang khusus dan menikmati suasana merupakan kekuatan kawasan yang muncul alamiah dari kinerja dunia pendidikan di dayah dan sekolah tinggi di desa tepi sungai itu. Ramainya pengunjung saban hari cukup menjadikan Desa Mideuen Jok sebagai desa idaman kunjungan. (Narit / Razuardi Ibrahim) 

KOMENTAR