Surabaya – Keajaiban alam bulan raksasa atau lebih dikenal dengan nama supermoon akan tersaji spektakuler di langit Indonesia Minggu (6/4) malam, sekitar pukul 10.30.

Namun kala menikmati keindahannya, penduduk bumi harus tetap waspada karena meski belum terbukti secara ilmiah, fenomena supermoon sering dikaitkan dengan bencana alam. Bahkan tahun lalu, fenomena yang juga dikenal dengan ‘lunar perigee’ diduga menjadi pemicu gempa bumi 8,9 Skala Ritcher dan tsunami 13 kaki (sekitar 3,9 meter) yang menghantam Jepang.

Para peneliti bersikukuh kala terjadi jarak bulan terdekat dengan bumi itu hanya bisa meningkatkan pasang naik air laut karena gaya tarik bulan yang sedikit lebih besar. Potensi banjir besar (banjir rob/banjir laut) akan menggenangi kawasan pesisir dan pinggiran sungai bisa berlangsung hingga 3 hari pasca kemunculan bulan besar. “Kalau banjir rob iya,” singkat Ir. Amien Widodo, pakar bencana Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jumat (4/5).

Sekadar mengingatkan, tahun lalu pada 19 Maret 2011 juga terjadi fenomena serupa. Entah ada hubungan atau tidak, pada hari itu juga rentetan gempa bumi dan gunung meletus mewarnai Indonesia.

Sekitar pukul 08.00 gempa bumi berkekuatan 5,1 Skala Richter (SR) mengguncang Wonogiri, Jawa Tengah. Satu setengah jam kemudian, gempa berkekuatan 5,3 SR menggoyang daerah Gunung Sitoli, Sumatera Utara (Sumut). Sebelumnya, Jumat (18/3) sore gunung Karangentang yang terletak di Kepulauan Sangir Talaud, Sulawesi Utara juga meletus. Sementara media internaisonal mengabarkan Supermoon memicu gempa dan tsunami besar yang melanda Jepang, Jumat 11 Maret 2011.

Lebih ke belakang, supermoon pada 10 Januari 2005 diduga menyebabkan gempa berujung tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004. Gempa tersebut terjadi 14 hari sebelum perigee bumi dan bulan terjadi.

Namun, Amien menegaskan selama ini belum ada penelitian secara ilmiah tentang munculnya Supermoon dengan kejadian gempa atau bencana. Ia juga memastikan, kejadian gempa yang berbarengan dengan hadirnya Supermoon hanyalah sebuah kebetulan dan sebatas mitos.

Mengacu dari beberapa referensi yang ada, Amien mengatakan, secara fisika, perlu ada perubahan tekanan yang cukup signifikan untuk mempu menjadi pemicu langsung sebuah gempa. Perubahan tekanan akibat pasang surut maksimum di bulan purnama dianggap belum cukup untuk memicu gempa. “Tapi, kalau ada kejadian statistikal, bahwa sering terjadi gempa pada bulan purnama belum dapat dijelaskan secara fisis,” tuturnya.

Terkait banjir rob atau banjir laut, menurut Amien, potensi terjadi karena saat bulan besar air laut yang mengalami pasang.“Pengaruh Supermoon terhadap banjir rob sangat jelas dan bisa mengakibatkan pasang paling tinggi. Banjir itu bisa berlangsung sampai 3 hari,” kata Amien.

Di Surabaya, menurut Kepala Seksi (Kasi) Observasi dan Informasi BMKG Maritim Perak, Bambang Setiajid deperkirakan membuat air laut pasang hingga lebih dari 140 cm.Kawasan pantai di Surabaya yang berpotensi terjadi air pasang meliputi kawasan Surabaya Timur mulai Kenjeran, Pantai Utara Surabaya seperti Greges hingga Kalianak. Selain itu juga terdapat di beberapa tempat disekitar Surabaya seperti Gedangan Sidoarjo hingga Pasuruan mengalami ketinggian pasang antara 130 – 140 cm. Kawasan pantai di Jatim memang diminta waspada, apalagi beberapa hari terakhir sering terjadi hujan pada malam hingga dinihari.

Sementara menurut Profesor Riset Astronomi Astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin,”Peningkatan pasang sekitar 42% kalau dibandingkan dengan pasang maksimum saat bulan terjauh saat bulan baru,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan, Pakar astronomi David Reneke, Menurutnya bencana yang dihubungkan dnegan supermoon akibat yang meningkatkan ketakutan manusia terkait kiamat yang akan datang.Pada masa lalu, susunan planet diperkirakan akan menarik matahari hingga terbagi dua. Pada kenyataannya tidak terjadi. “Prediksi saya terhadap efek supermoon hanya sebatas ombak pasang saja,” ujar Reneke seperti dikutip dari Wvoutpost.com.

Menurut space.com, supermoon Minggu malam nanti merupakan jarak bulan dengan Bumi yang paling dekat di tahun 2012 ini. Saat peristiwa terjadi Bulan akan lebih besar dan lebih terang hingga 16% dari rata-rata.Fenomena ini terjadi karena orbit Bulan bukanlah lingkaran sempurna.

Selanjutnya, pada 28 November 2012 akan terjadi fenomena yang berkebalikan dengan supermoon yaitu bulan sedang berada di titik terjauh dari Bumi. Sehingga Bulan akan tampak kecil dan redup.

Jarak rata-rata Bulan dengan Bumi adalah 384 ribu km. Nah, pada saat supermoon terjadi, jarak Bulan dengan Bumi sekitar 357 km. Sehingga pada saat fenomena terjadi, jarak bulan lebih dekat 27 ribu km dari jarak rata-ratanya.

Terbaik bagi Indonesia

Fenomena Supermoon yang akan terjadi pada Minggu (6/5) menurut Mutoha Arkanuddin dari Jogja Astro Club (JAC) akan menjadi yang terbaik. “Kalau Supermoon tahun lalu terbaik di Amerika, maka Supermoon tahun ini adalah Supermoon terbaik bagi Indonesia.” Bulan raksasa ini juga muncul bertepatan dengan perayaan Hari Raya Waisak.

Menurut Mutoha, Supermoon tahun ini bisa dinilai yang terbaik dari selisih antara saat terjadinya purnama, perigee, dan saat Supermoon tampak. “Tahun ini purnama terjadi pada pukul 10.30, sementara perigee-nya pada 3.30 UT atau 10.30 WIB. Jadi bersamaan,” ungkap Mutoha.

Selisih antara saat terjadinya purnama dan perigee dengan waktu yang memungkinkan untuk pengamatan di Indonesia juga lebih singkat. “Di Indonesia, kita hanya perlu menunggu sekitar 6 jam untuk melihat Supermoon. Kalau di Amerika tahun ini harus menunggu 12 jam,” papar Mutoha.

Meski istimewa, penampakan Supermoon tak akan bisa disadari dengan mudah. Diperlukan teleskop untuk membandingkan besarnya bulan saat Supermoon dengan saat purnama biasa. Mutoha dan anggota komunitas JAC berencana membuat dokumentasi agar publik menyadari perbedaan besar Bulan tersebut. (sab/surabayapost)

KOMENTAR