Banda Aceh – Masyarakat Aceh diminta untuk menghilangkan sikap saling curiga dan kultur ketidakikhlasan dalam menjalani perdamaian yang sudah berjalan lima tahun ini, sejak perjanjian MoU Helsinki 15 Agustus 2005 lalu.

“Sekarang masanya kita harus saling percaya, sebab tanpa saling percaya sulit membangun Aceh lebih baik usai bencana alam dan konflik,” kata Wakil Gubernur (Wagub) Aceh Muhammad Nazar dalam jumpa pers peringatan lima tahun perjanjian damai di Kantor BRA, Rabu (4/8/2010) di Banda Aceh.

Kata Nazar, dengan adanya saling percaya dalam kehidupan masyarakat, perdamaian yang sedang berjalan akan terus berlanjut, tidak seperti perjanjian Lamteh yang hanya berumur 15 tahun.

“Perjanjian damai ini baru berusia lima tahun, namun perjanjian bisa dijaga dengan adanya saling percaya antar masyarakat baik lapisan atas atau lapisan bawa,” katanya.

Sementara itu, Ketua BRA TM Nazar menyampaikan sejak berdirinya BRA 2005-2010, Pemerintah Pusat melalui APBN sudah mengalokasikan dana sebesar Rp1,9 trilliun. Sedangkan Pemerintah Aceh hanya membantu dana sejak 2008-2010 sebesar Rp379 miliar.

Kata TM Nazar, tahun ini pusat sudah mengalokasikan dana sebesar Rp200 miliar, dimana Rp8,4 miliar untuk pengobatan masyarakat korban konflik, seperti peluru yang masih tertinggal di dalam tubuh dan seorang anak yang hilang pandangannya akibat kekerasan masa konflik.

Untuk membangun rumah yang dirusak atau dibakar yang masih tersisa 7.200 unit lagi dari 33 ribu unit yang dilaporkan di 23 kabupaten/kota di Aceh. Menurutnya, BRA tahun ini menyediakan dana sebesar Rp23 miliar untuk membangun 320 unit.

Selain itu, dari dana Rp200 miliar juga digunakan untuk membayar dana diyat bagi keluarga korban konflik yang saat ini sudah tercatat sebanyak 29 ribu orang sebesar Rp3 juta per orang.

Sementara itu, dalam peringatan lima tahun perjanjian damai tanggal 15 Agustus mendatang, TM Nazar mengatakan ada 40 lembaga pemerintah dan non pemerintah yang ikut berpartisipasi melakukan berbagai kegiatan. bay

KOMENTAR