[quote]Petugas Lajnah Pentasihan Mushaf Al-Quran Kementrian Agama RI menunjukan Mushaf Al-Quran tertua asal aceh yang diperkirakan ditulis tahun 1800-an. [/quote]

Pontianak — Lajnah Pentasihan Mushaf Al-Quran Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, memamerkan sejumlah mushaf Al-Quran berumur ratusan tahun, dalam acara expo di Sultan Syarif Abdurrahman. Dari sejumlah mushaf tersebut terdapat salah satu Mushaf tertua berasal dari Aceh.

Mushaf Al-Quran yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia sudah berumur ratusan tahun, dapat dilihat di arena kegiatan. Umumnya berasal dari pemberian kolektor. Dari sejumlah mushaf yang dipamerkan itu, ada salah satu mushaf tertua berasal dari Aceh.

“Mushaf yang dari aceh itu diperkirakan ditulis tahun 1800-an abad 19. Akan tetapi keterangan ditulis tahun berapa tidak ada, namun kertas yang digunakan bisa membuktikan kalau mushaf tersebut berumur ratusan tahun,” kata Adimas, salah satu anggota Lajnan Pentasihan Mushaf Al-Quran Kementrian Agama RI.

Penelusuran Mushaf Al-Quran tidak hanya dilakukan di seluruh wilayah di Indonesia, termasuk Penelusuran manuskrip (naskah tulisan tangan) Al-Quran di Kalbar juga dilakukan. Dari penelusuran tersebut, ditemukan 13 naskah mushaf Al-Quran, yang disimpan perorangan, Kanwil Kementrian Agama, Keraton Kadriah, Museum Negeri Pontianak, dan Pesantren Aman Sentosa di Sambas.

Kondisi sebagian besar mushaf tersebut telah rusak, tidak lengkap, berlubang, dan lapuk, sebagian tidak bisa dibuka lagi. Informasi dalam kolofon (yaitu catatan di naskah kuno mengenai mengenai penulis, tarikh, tempat, sponsor penulis, dan sebagainya), sangat sedikit. Namun demikian. Ada indikasi bahwa sebagian penulis mushaf-mushaf tersebut disponsori oleh Kesultanan Islam yang berkuasa pada masa itu.

Bahkan barangkali dapat dikatakan bahwa istana merupakan sponsor utama penulisan mushaf. Namun, ditemukan pula mushaf yang tidak terkait langsung dengan istana, dan diduga ditulis oleh para guru, ulama, dan penyebar agama Islam pada masa itu. “Salah satunya adalah mushaf Al-Quran yang disimpan di Pesantren Aman Sentosa,” kata Adimas.

Dari naskah yang ditemukan itu, lima naskah diantaranya dapat diketahui penulisnya, yakni ditulis oleh Bu Syarif Muhammad Putra Bu Syarif Idrus (mushaf 2), Sultan Syarif Abdurrahman bin Habib Syarif Husin bin Muhammad Al-Qadri tahuun 1771, pendiri Kota Pontianak (mushaf 3), Syekh Muhammad Ali tahun 1802 (mushaf 4), Syekh Abdul Wahab pada 1804 (mushaf 5), dan Muhammad Husaeni (mushaf 6).

Delapan mushaf lainnya tidak diketahui penulisnya, maupun tahun penulisannya. “Selain mushap manuskrip, ditemukan pula sebuah mushaf cetakan litografi yang selesai dicetak pada 1891 (mushaf 7),” cerita Adimas.

Dari aspek teks ayat, terdapat keragaman, ada yang menggunakan Rasm Usmani, dan sebagian besar imla’i. Jumlah baris per halaman beragam, ada yang 17 baris, 16, 15, dan 13. Namun yang paling banyak adalah 15 baris. Penulisan kata walyatalattaf (Surah Al-Khaf/18:19) yang dianggap sebagian besar pertengahan Al-Quran ternyata sejak dulu memperoleh perlakuan khusus, yakni ditulis dengan huruf yang lebih besar atau lebih tebal, dan pada sebagian mushaf ditulis dengan warna merah.

Adimas, menuturkan, dari informas yang diimpun, sesungguhnya manuskrip Al-Quran di Kalbar jumlahnya cukup banyak, tetapi tidak sedikit yang telah dijual para pemiliknya. Jika melihat banyaknya mushaf yang ditulis pada masa lalu, dan sebagian mushaf tersebut berada di lingkungan keluarga kesultanan, dapat diduga bahwa ada keterkaitan erat antara penulis mushaf danb kesultanan yang berkuasa.

“Para Sultan, dengan demikian, merupakan penganjur penyalinan mushaf Al-Quran, di samping ulama, santri, dan para penganjur agama Islam pada masa lalu,”ucapnya. Menurut Adimas, mushaf-mushaf yang ditemukan, baik di Kalbar maupun di daerah lainnya, pada dasarnya membuktikan bahwa pada masa lalu umat Islam memiliki peran, dalam perjuangan kemerdekan bangsa Indonesia.

“Ini bukti bahwa umat Islam masa lalu, berjuang melawan kolonialisasi dengan perjuangan yang berlandaskan ajaran Islam,” terangnya. (Adong Eko/Pontianak Post)

KOMENTAR