KURATOR Museum Tsunami Aceh, Cut Intan Damayanti, diundang sebagai panelis utama dalam webinar internasional bertajuk “Museum Centered Cultural Dialogues”, Selasa, 13 Juni 2026.
Forum ilmiah global yang disponsori penuh oleh Pemerintah Republik Islam Iran ini menjadi panggung bagi Aceh untuk membagikan standardisasi cara mengelola trauma kolektif menjadi instrumen edukasi mitigasi bencana yang berkelanjutan.
Dalam pertemuan lintas negara tersebut, Cut Intan memaparkan presentasi bertema “Preserving Memories and Inspiring Future” (Melestarikan Kenangan Masa Lalu dan Menginspirasi Kehidupan Masa Depan). Diskusi ini sekaligus melacak kembali benang merah ikatan sejarah dan peradaban budaya Timur yang kuat antara Indonesia-Aceh dan Iran yang telah mengakar sejak abad perdagangan maritim.
Dialog internasional ini merupakan tindak lanjut konkret dari kunjungan resmi Penasihat Kebudayaan (Cultural Counsellor) Kedutaan Besar Iran di Jakarta, Dr. Yahya Jahangiri, ke Aceh beberapa waktu lalu. Kunjungan diplomatik tersebut sebelumnya juga diwarnai dengan agenda pemutaran film dokumenter asal Iran berjudul “Khodaye Jang” (God of War), yang merekam proses pemulihan (healing process) masyarakat Iran pasca-Perang Iran-Irak.
Menariknya, karakteristik masyarakat Iran dalam menghadapi destruksi perang tersebut dinilai memiliki kemiripan sosiologis dengan masyarakat Aceh. Kedua bangsa dinilai memiliki ketangguhan spiritual yang kuat saat bangkit dari kelumpuhan total, baik akibat konflik sosial masa lalu maupun bencana gempa bumi dan tsunami dahsyat tahun 2004 silam.
Dalam narasinya, Cut Intan Damayanti menekankan bahwa peran museum di abad ke-21 ini sudah mengalami pergeseran radikal. Institusi museum tidak boleh lagi sekadar menjadi ruang pamer benda mati yang kaku atau tempat menyimpan romantisme masa lalu, melainkan harus bertransformasi menjadi ruang hidup (living museum).
“Museum harus mampu merawat ingatan atas tragedi masa lalu, baik karena perang, konflik, maupun bencana alam. Kemudian, mengubah memori tersebut menjadi bahan bakar energi positif serta inspirasi untuk membangun kehidupan yang lebih aman dan tangguh di masa depan,” kata Cut Intan.
Ke depan, sinergi diplomasi kebudayaan ini diproyeksikan tidak berhenti pada pelaksanaan webinar semata. Kolaborasi bilateral antara kedua pihak diarahkan pada program yang lebih berdampak luas bagi publik, mulai dari pertukaran program kuratorial, riset bersama mengenai arsip sejarah Timur, hingga kolaborasi pameran bersama antara Museum Tsunami Aceh dengan museum-museum terkemuka di Iran.

Belum ada komentar