Jakarta – Bencana alam gempa bumi dan tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 diyakini terdeteksi radar atmosfer khatulistiwa (Equatorial Atmosphere Radar/EAR).

“Ada anomali perubahan angin pada ionosfer beberapa menit sebelum tsunami. Tapi apakah ini kebetulan atau tidak itu yang harus diteliti lagi,” kata peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Eddy Hermawan di Jakarta, Kamis (22/9/2011).

EAR merupakan radar terbesar dan terlengkap di ekuator yang ditempatkan tepat di garis khatulistiwa, yaitu di Kototabang, Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat yang beroperasi sejak 26 Juni 2001.

EAR merupakan hasil kerja sama antara Lapan dengan Research Institute for Sustainable Humanosphere (RISH) Universitas Kyoto, Jepang.

Radar EAR berfungsi sebagai pengamat atmosfer yang berpengaruh pada iklim global. Alat tersebut juga dirancang untuk mendeteksi perilaku arah dan kecepatan angin, salah satu yang diamati adalah pengamatan musim hujan di Indonesia.

Radar tersebut secara umum mempelajari dinamika atmosfer dan mampu mendeteksi perilaku angin dalam bentuk tiga dimensi yaitu vertikal, meridional dan zonal dalam selang waktu beberapa menit untuk setiap ketinggian 150-300 meter serta mampu menyimpan 1.440 profil dinamika atmosfer dalam satu hari.

Alat tersebut juga mampu mendeteksi fenomena elektromagnetik yang terjadi pada lapisan sekitar 100 km. radar EAR dibuat hampir menyerupai MU (Middle and Upper atmosphere) radar yang da di shiragaki, Jepang baik dari sistem antena yang dipakai maupun frekuensi yang digunakan yakni 46,5 MHz.

Radar EAR merupakan radar terbesar ketiga didunia setelah radar Mesosphere Stratosphere Trophosphere (MST) di Peru dan India. Radar tersebut unik sebab memiliki resolusi tinggi dan teknologinya sama seperti Jepang. [surya]

KOMENTAR