Di bawah terkaman jejaringan renyai hujan malam itu, wajah Kota Blangkejeren muram di mata saya. Lampu-lampu di depan sepanjang deretan pertokoan bagai memicing setengah mata dan ronanya tampak temaram. Lampu-lampu jalanan yang dibalut sekat tipis kekelaman, tampak durja bagai lelaki kehilangan orang-orang tercinta.

Tapi tidak seantero kota meringkuk dalam lara duka cuaca. Di sesudut lapangan terbuka tepian utara, lantunan gairah ekspresi estetika rakyat jelata, membahana. Saat tiba di sana, saya bagai terkesima. Di bawah tenda yang luas berwarna tentara, dan di atas berhelai-helai tikar yang digelar langsung di atas tanah, dua barisan lelaki tegak setengah lutut dalam pakaian seragam tari tengah meliuk-meliukkan tubuh.

Di belakang penari laki-laki, duduk berjejer di atas bangku gadis-gadis yang juga dalam seragam tari dan di setiap kepala mereka yang berbalut jilbab hitam terselip sekuntum bunga berwarna merah. Sementara satu barisan lagi, pada deretan yang sama dengan pakaian tari berwarna beda dan warna bunga di atas kepala mereka juga berbeda. Kuning.

Gadis-gadis dalam gairah pakaian merah-merah berkasap itu sedang menunggu giliran untuk menari. Sementara untuk saat ini mereka adalah bagian dari suporter bagi group-group penari pria. Saat syair-syair yang mengiringi penari pria tiba pada kata-kata yang menggelitik perasaan, mereka sama berseru memberi perhatian bersama aplus yang diberikan para penonton yang berjubel mengelilingi tenda.

Malam itu adalah malam tarian saman dari berbagai group di seluruh Gayo Lues diperlombakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke 65. Seharusnya even tersebut diadakan tepat pada 17 Agustus tempo hari. Namun karena tahun ini tanggal bersejarah tersebut jatuh bertepatan dengan bulan Ramadhan, perlombaan digeser hingga jatuh pada Minggu malam (26/9) di bawah langit kabupaten seribu bukit yang malam itu berhujan rintik-rintik.

Kini perhatian saya kembali tertuju ke arah ratusan pengunjung yang duduk bersimpuh dan memeluk lutut di terpal yang digelar di atas tanah bawah tenda. Mereka antusias mengarah telinga dan mata pada setiap group penari saman yang beraksi di wilayah tengah-tengah tenda yang juga berada di atas gelaran terpal sejajar dengan penonton. Dan begitulah seterusnya ketika sekali-sekali syair-syair itu berada pada bait-bait yang menggelitik, semua penikmat sontak berteriak dengan pekikan-pekikan responsif.

Dan ketika malam semakin larut sementara suasana di bawah tenda kian bergairah, saya baru teringat bahwa besok pagi-pagi harus menempuh enam jam perjalanan gunung dari Blangkejeren ke Takengon dan dari sini harus enam jam lagi timbul-tenggelam naik-turun bukit menuju Bireuen hingga berakhir di kampung halaman sendiri, Sigli. Saya dan serombongan kawan dari Banda Aceh harus segera kembali ke rumah teman yang menjadi tempat penginapan kami selama sudah dua hari di ibukota Kabupaten Gayo Lues itu.

Ketika dalam perjalanan pulang menuju ke rumah kawan di mana Kota Blangkejeren harus kami lalui sekali lagi di malam yang kian larut itu, persepektif saya benar-benar telah berubah. Ini semata-semata pengaruh kegairahan tari saman yang baru kami tonton di bawah tenda sudut kota. Kini, di bawah terkaman halimun dinihari yang kian menebal, wajah Kota Blangkejeren tak lagi muram di mata saya. Lampu-lampu di depan sepanjang deretan pertokoan yang tadi bagai memicing setengah mata dan ronanya tampak temaram, kini bagaikan membeliak dengan tatapan yang membidik. Lampu-lampu jalanan yang dibalut sekat tipis kekelaman yang tadi tampak durja bagai lelaki kehilangan orang-orang tercinta, kini tampak bagai lelaki pelomba yang menang di arena.

Dan sebagaimana tarian Saman yang telah mengubah daya perspektif saya terhadap Kota Blangkejeren malam itu, tarian nyang meutuah ini agaknya juga telah mengubah kemuraman Aceh di mata dunia. Kata Iswadi, 37 tahun, pemerhati seni warga Gampong Blok Bengkel, Kota Sigli, Jum’at (5/10). “Saman hendaknya menjadi tarian yang wajib dipelajari di seluruh sekolah di Aceh, dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas.”

Kata dia, di Eropa atau di luar negeri umumnya, orang bertepuk tangan setelah menonton tarian dari daerah lain. Tapi kalau menonton tarian Saman mereka berdiri dulu baru bertepuk tangan. Ya, saking gairahnya memberi aplus. Tetapi, sambung Iswadi, yang diaplusi itu biasanya pemuda-pemuda Jakarta yang belajar Saman dari IKJ (Institut Kesenian Jakarta) atau dari guru-guru lepas. Jadi, “Ya, bukan pemuda-pemuda kita. Saya cemburu pada kenyataan itu. Aceh yang punya Saman, pemuda Jakarta yang dapat tepuk tangan.”

Sambung Iswadi, “Kenyataan itu akibat tari Saman lebih dimanjakan dalam pangkuan orang. Sementara dalam pangkuan sendiri cuma kita peduli seadanya saja, sama dengan tari-tari kreasi baru yang tidak punya identitas itu.”(ha/musmarwan abdullah)

KOMENTAR