Steve Ahern (rri.co.id)
Steve Ahern (rri.co.id)
Steve Ahern (rri.co.id)
Steve Ahern (rri.co.id)

TANTANGAN terbesar bagi media massa, termasuk radio adalah bagaimana bisa memperkuat dengan penggunaan teknologi baru. Salah satu teknologi baru yang digunakan dalam era baru media adalah facebook dan twitter. Hal tersebut dikemukan oleh Steve Ahern dalam “Lokakarya Mobile Journalism” di Yogyakarta, 7-9 Mei yang diikuti sejumlah wartawan dari RRI.

“Tantangan besar bagi radio, dan tantangan itu perlu radio diperkuat lagi. Justru pembaharuan pada radio itu dengan menggunakan teknologi baru, dan bentuknya justru bisa ditaruh di saku. Dan waktu itu orang-orang menaruh radio di saku-sakunya. Radio mengikuti perkembangan yang berkelanjutan,” kata Steve yang juga pemilik Ahern Media & Training Pty Ltd, seperti diberitakan rri.co.id.

Menurut Steve, konsekwensi media ataupun radio yang tidak menggunakan twitter dan facebook tidak akan membuat media tersebut gulung tikar. Namun yang pasti, kata Steve, pengelola radio harus sadar bahwasanya pelan-pelan bila media tak menggunakan sosial media seperti facebook dan twitter, maka radio tersebut akan ditinggalkan pendengarnya.

“Konsekwensinya tidak besar tidak akan membuat anda gulung tikar. Akan tetapi Anda harus sadar bahwa pelan-pelan para pendengar Anda akan meninggalkan dan menjauh. Sebab mereka akan lebih bisa berinteraksi dekat dengan radio yang menggunakan sarana seperti twitter dan facebook. Menjelang 2020 akan terjadi 50 miliar sarana di seluruh dunia terkoneksi,” ungkap Steve.

Radio, jelasnya, mempunyai kompetitor yang lebih kuat, yakni televisi yang menggunakan penonton yang loyal. Misalnya dengan penggemar musik pop.

“Kalau Anda benar-benar mempelajari sejarah. Anda akan mampu memperkirakan di masa depan. Sekarang itu kita ada era, itu semua teknologi bisa digunakan. Itu era konvergensi. Dan itu kemudian mendorong menggunakan sarana yang baru, yang menggunakan teknologi yang baru,” tuturnya.

Twitter itu, katanya, sama seperti radio dan facebook itu bisa diperumpamakan seperti tayangan acara interaktif. “Di facebook itu bisa membicarakan apa yang orang lain bicarakan. Tolong bandingkan twitter dan facebook, dibandingkan dengan perkembangan topik ini,” terangnya.

Dikatakan Steve, penggunaan sosial media akan semakin besar. Ia menyarankan agar dalam mengirimkan status dalam twitter dan facebook itu Anda tidak boleh bersikap bodoh. “Jangan tampak bodoh. Twitter dan facebook itu tempat publik dan permanen,” tandasnya.

Selain itu, katanya, jangan pernah menulis di facebook dan twitter seperti apa yang Anda tidak akan tulis di berita media Anda, terlebih bila sebutkan website Anda di RRI.[]