Sigli – Sudah 65 tahun Indonesia merdeka, namun sekitar 70 persen warga Kecamatan Batee, Pidie belum menikmati air bersih. Warga yang sebagian besar menetap di kawasan pesisir terpaksa harus menggunakan air sadah (payau) untuk mandi dan mencuci.Satu unit Instalasi Pengolahan Air (Water Treadment Plant/IPA) yang dibangun di Gampong Teupin Raya, Kecamatan Batee bernilai miliaran rupiah tidak berfungsi.

Camat Batee, M. Adam,  Rabu (18/8) mengatakan, selama ini warga sejumlah kawasan di Kecamatan yang dipimpinnya masih mengonsumsi air payau, terutama di kawasan pesisir dan sekitarnya. Sementara ada beberapa gampong yang menikmati air bersih dari sumur artesis, itu pun tidak maksimal dan terkendala dengan biaya operasional.

”Dari 19.300 jiwa penduduk kecamatan Batee, 70 persen di antaranya bermukim di kawasan pesisir dam sekitarnya belum  menikmati air bersih, sementara sejumlah jaringan pipa telah menjangkau Gampong-gampong di pesisir Batee, tetapi belum dapat dialiri air bersih,” sebutnya.

Pihaknya, lanjut Adam, belum mengetahui dengan pasti mengapa IPA yang dibangun sejak tahun 2007 di Kecamatan Batee itu belum dapat difungsikan, padahal jaringan pipa telah merambah Kota Kecamatan dan hampir merata di seluruh Gampong, namun airnya tak kunjung datang.

”Saya selaku camat di Batee ini belum mengetahui mengapa IPA yang dibangun di Gampong Teupin Raya itu tidak berfungsi, padahal masyarakat Batee yang menetap di pesisir dan sekitarnya sangat mengharapkan hadirnya air bersih, sudah puluhan tahun didambakan,” ungkap dia.

Dalam memenuhi air bersih untuk minum, mandi dan mencuci, warga di empat  Gampong di Kemukiman Pande mengandalkan sumur artesis, namun terkadang mengalami kendala soal operasional.

Begitu pula Gampong Meunasah Mee, Gampong Seulatan serta Gampong Kereueng dan Kulee juga menggantung harapan pada debit air dari sumur artesis, itu pun kapasitasnya sangat kecil, sehingga tidak mencukupi mampu mencukupi kebutuhan warga terhadap air bersih.

Pantauan Harian Aceh pada IPA di Gampong Teupin Raya, tampak kompleks IPA tersebut sudah ditumbuhi semak dan tak terurus, bahkan sejumlah fisik IPA mulai berkaratan, kaca jendelanya kantornya pun sebagian sudah pecah.(*/ha/zuk)

KOMENTAR