Dukung Visit Aceh 2013Oleh Michael Watopa

Setelah mengalami isolasi dan konflik selama 30 tahun, Aceh membuka pintu bagi para wisawatan, menawarkan diri sebagai tempat tujuan unik bagi umat Muslim di Asia Tenggara.

Setelah melewati masa pemberontakan dan tsunami, Aceh siap menerima pengunjung, ujar para pejabat pada saat mereka menyingkapkan rencana bagi tahun “Kunjungan Aceh 2013” di sebuah acara baru-baru ini di Jakarta.

Hukum Syariah, yang berlaku di provinsi paling barat di Indonesia ini, seharusnya tidak menghambat para wisatawan, dan justru bisa menjadi daya tarik wisatawan yang besar, ungkap Gubernur Aceh, Zaini Abdullah.

“Peluncuran ‘Kunjungan Aceh 2013’ akan menyebarkan informasi bahwa Aceh sudah siap menerima wisatawan, baik asing maupun lokal,” katanya pada acara tanggal 11 November ini di Kementerian Budaya dan Pariwisata di Jakarta.

“Wisatawan dapat menyaksikan keragaman kehidupan laut dan hutan tropis. Selain itu, hukum Syariah di Aceh dapat membuat kawasan ini menjadi salah satu tujuan wisata agama terbesar di Asia Tenggara,” kata Zaini.

Kawasan ini telah dibersihkan dari tsunami tahun 2004 yang menewaskan 250.000 orang dan menghanyutkan lingkungan-lingkungan perumahan, dan sekarang memiliki sebuah Museum Tsunami yang memperingati bencana itu, katanya.

“Kami masih terus membangun infrastruktur dan membantu para korban tsunami di kawasan itu. Tsunami telah meninggalkan banyak hal akan apa yang terjadi pada tahun 2004,” katanya.

“Meskipun Aceh menakutkan di masa lalu karena laporan negatif mengenai sebuah kamp pelatihan teroris, daerah ini sekarang aman, dan kami menjanjikan kenyamanan dan keamanan. Aceh aman dan nyaman bagi wisatawan. Kami ingin mempertunjukkan warisan kesenian dan budaya kami kembali,” tegasnya.

Pemandu gratis

Daerah istimewa di ujung utara Sumatra ini memiliki sejarah unik yang dibanggakan sebagai tempat di mana Islam pertama kali menjejakkan kaki di Asia Tenggara, kekayaan hidangan kuliner istimewa dan tarian tradisional unik seperti Saman dan Seudati.

“Sektor pariwisata ini sekarang menjanjikan. Aceh memiliki banyak kekayaan alam dan ciri khas unik, yang dapat memandirikan ekonominya. Pariwisata dapat memberi penghasilan kepada warga Aceh,” kata Wakil Menteri Pariwisata Sapta Nirwandar.

“Saya optimis bahwa tahun 2013 akan menjadi tahun pariwisata yang bagus bagi Aceh,” dia menambahkan.

Para wisatawan bisa mendapat tur dengan pemandu selama seminggu tanpa biaya atas promosi program pariwisata, menurut Adami Umar, pemimpin Departemen Budaya dan Pariwisata tingkat provinsi.

“Mulai 1 January 2013, para wisatawan akan disambut di bandara dan para pemandu kami akan mengantar mereka berkeliling kota Aceh gratis selama seminggu,” katanya.

Memahami hukum Syariah

Para wisatawan tidak perlu mengkhawatirkan untuk mematuhi hukum Syariah selama berkunjung ke Aceh; akan tetapi, mereka akan diberi penjelasan setelah mereka tiba agar dapat memahaminya, kata para pejabat.

“Para wisatawan yang datang tidak perlu mematuhi hukum Syariah di Aceh. Mereka punya agama sendiri, dan kami juga taat beragama. Jadi sama saja – kita saling menghormati,” ujar Zaini.

“Aceh ramah tidak hanya terhadap negara-negara Islam, tetapi juga dengan negara-negara non-Islam. Jadi kami bersahabat dengan semua negara,” tambahnya.

Ketika dihubungi di Aceh melalui telepon, direktur utama Majelis Permusyawaratan Ulama, Sham Mohammed Gazali, berkata bahwa orang asing yang mengunjungi Aceh akan memperoleh panduan khusus agar mereka memahami budaya dan peraturan di Aceh.

“Saya menekankan bahwa hukum Syariah hanya berlaku kepada penduduk Aceh. Jadi, tidak ada hukuman untuk orang-orang yang bukan orang Aceh,” katanya.

Wisatawan lain akan datang ke Aceh khususnya karena tradisi Muslimnya, kata Jasman Marufsaid, seorang anggota staf gubernur Aceh. Dia berkata, sudah menjadi kebiasaan rakyat Aceh untuk mengundang kaum Muslim di Asia Tenggara selama bulan suci Ramadan.

“Selama bulan puasa, banyak warga Malaysia yang mengunjungi Aceh. Tradisi Islam di Aceh telah menjadi daya tarik wisata,” katanya. (Khabar Southeast Asia)