Banda Aceh — Penjabat Bupati Aceh Tengah Mohd Tanwier meminta Pemerintah Pusat dapat menghadirkan pusat penelitian kopi di daerah penghasil komoditas tersebut.

“Keberadaan pusat penelitian kopi akan mampu memaksimalkan pengembangan hasil perkebunan itu kearah yang lebih baik di masa mendatang,” katanya disela-sela pertemuan dengan Tim Pemantau Pelaksanaan Undang Undang Nomor 11 tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh di Banda Aceh, Jumat (12/10).

Pertemuan yang dipimpin langsung Priyo Budi Santoso sebagai Ketua Tim Pemantau Pelaksanaan UUPA yang juga Wakil Ketua DPR dihadiri Gubernur Aceh Zaini Abdullah dan pemerintah kabupaten/kota.

Dijelaskannya, untuk menguji hasil perkebunan milik masyarakat tersebut para petani harus melakukan penelitian di Jember sebab pusat penelitian kopi ada di kawasan tersebut.

“Artinya, petani Aceh Tengah dan Bener Meriah membutuhkan dana yang besar jika ingin melalukan penelitian terhadap kopi,” katanya.

Menurut dia, dengan luas lahan sekitar 100 ribu hektare yang seluruhnya dimiliki oleh masyarakat di dua kabupaten itu, maka sangat tepat jika adanya pusat penelitian.

Karena itu pihaknya berharap Tim dari DPR tersebut dapat memperjuangkan keinginan masyarakat di dataran tinggi gayo Aceh yang merupakan daerah penghasil kopi arabika.

Kopi arabika asal dataran tinggi gayo provinsi ujung paling barat Indonesia itu memiliki cita rasa yang khas dan banyak diburu di pasaran. (ant)

KOMENTAR