Salah satu tradisi Khenduri Apam di Aceh (Foto M Iqbal) Jakarta — Selama ini, banyak kalangan pecinta traveling yang mengeluhkan tentang kurangnya akses transportasi menjadi kendala wisatawan lokal dan asing berkunjung ke tempat-tempat tujuan wisata di Indonesia.

Padahal, Indonesia merupakan sebuah negara besar dan unik yang menjadi salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, dengan ribuan destinasi wisata yang sangat indah dan mengagumkan.

Dengan jumlah kepulauan yang sangat banyak dan kondisi alam yang beragam kendala geografis tentu menjadi tantangan tersendiri bagi akses transportasi para wisatawan lokal maupun asing yang akan berkunjung ke tempat wisata di Indonesia

Menurut Rudiana, Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan Penjual Tiket Penerbangan (Astindo) yang dihubungi Beritasatu.com, Minggu (2/11) via telepon selulernya, sektor industri pariwisata Indonesia saat ini memang tengah berkembang dengan pesat.

“Banyak konsumen asing yang bertanya-tanya tentang ragam pilihan tujuan wisata dan aktivitas di ragam destinasi di Indonesia. Selain itu, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia, masyarakat Indonesia memiliki minat semakin tinggi untuk berwisata,” katanya.

Sayangnya, kata Rudiana, seringkali wisatawan atau penumpang kesulitan untuk mewujudkan impian liburannya karena terbatasnya kursi penerbangan yang tersedia dan tingginya permintaan yang ada.

“Selama ini kendala yang dihadapi oleh kalangan wisatawan adalah kesulitan untuk mendapatkan kursi dengan biaya yang terjangkau. Makin tinggi permintaan dan ketersedian kursinya terbatas , makin mahal harga tiket,”

Menurut Rudiana, semakin banyaknya maskapai penerbangan berbiaya rendah (Low Cost Carrier) tentu semakin menyemarakan bisnis pariwisata di Indonesia. Selama ini, maskapai jenis ini paling banyak menyokong tumbuhnya tingkat penumpang yang melakukan perjalanan wisata.

“Load factor dan periodesasi waktu liburan (peak season) juga ikut mempengaruhi ketersediaan tiket dan kenaikan harganya. Jelang akhir tahun seperti sekarang ini, dapat dipastikan harga akan melesat sangat drastis,”

“Angka kenaikannya sendiri, bisa berkisar antara 30 – 90 %, tergantung dengan banyaknya permintaan yang datang dari kalangan wisatawan yang ingin menggelar liburan,”

Sementara itu, Graham Hills, Managing Director Wego Indonesia menyatakan, kalangan wisatawan memang masih terkendala dengan jarak dan akses perjalanan yang belum maksimal didukung sarana transportasi yang bisa menekan biaya perjalanan antar wilayah.

“Namun jika kita berbicara data, yang terlihat di situs Wego mengungkapkan bahwa mayoritas wisatawan asal Indonesia, sebanyak 76%, mencari tujuan wisata lokal Indonesia. Malah, dari 20 tujuan teratas yang dipilih, hanya 4 yang merupakan tujuan internasional,” tambahnya lagi.

Dari angka yang dimiliki oleh perusahaannya, Graham menyatakan bahwa terlihat sekarang ini pariwisata lokal Indonesia sedang menggeliat dan mulai mendapatkan perhatian. Selain itu juga terlihat bahwa faktor kurangnya akses bukan lagi menjadi masalah utama.

“Wego sendiri melihat Indonesia sebagai negara yang kaya akan potensi wisata yang ditunjang berbagai faktor seperti keindahan alam, warisan budaya, masyarakat, hingga kuliner,” tambah dia.

Pihak Wego sendiri memiliki kepercayaan yang cukup tinggi bahwa pasar akan bergerak seiring dengan makin aktifnya masyarakat Indonesia dalam mendukung perkembangan industri travel online sehingga akses dunia untuk mengetahui keunikan dan kekayaan Indonesia lebih terbuka.

“Kehadiran Wego di Indonesia sejak 2011 dengan tampilan bahasa Indonesia semakin membantu para wisatawan untuk mempermudah pencarian informasi tentang wisata, karena Wego adalah salah satu mesin pencarian wisata paling lengkap di dunia,” katanya lebih lanjut.

Menurut Graham, sejauh ini kendala geografis yang belum didukung infrastruktur yang memadai masih menjadi tantangan yang utama dalam pengembangan sektor pariwisata di Indonesia. Bayangkan jika keunikan geografis yang dimiliki Indonesia sudah dengan begitu mudah dapat diakses oleh banyak wisatawan, tentu dunia wisata Indonesia akan berkembang sangat pesat.

“Tidak ada negara lain di dunia yang memiliki kekayaan alam dan budaya seperti Indonesia dan itu adalah modal yang sangat besar untuk menarik banyak wisatawan,” katanya.

Lebih lanjut Graham mengatakan, selain faktor kebijakan penetapan harga tiap maskapai yang sudah disebutkan tadi, harga juga dipengaruhi oleh fakta bahwa saat ini maskapai tengah menaikkan frekuensi penerbangan dan menambah beberapa rute baru, baik jalur domestik maupun internasional.

“Data yang dimiliki oleh Wego memperlihatkan bahwa dibandingkan tahun 2011, tahun ini terdapat penurunan rata-rata sebesar 10% untuk rute domestik, yang mengindikasikan bahwa semakin tingginya aktivitas penerbangan berdampak pada harga yang semakin kompetitif. Penumpang bisa mendapatkan komparasi harga dan memilih yang terbaik,”

Menurut Graham, masyarakat Indonesia sendiri masih banyak yang belum menyadari potensi yang dimiliki negaranya. Kesadaran itulah yang harus terus dibangun dan ditingkatkan mengenai kecantikan dan kekayaan alam dan budaya nusantara. Merekalah yang sesungguhnya merupakan duta pariwisata Indonesia.

“Dengan semakin banyak orang mengetahui pariwisata Indonesia, diharapkan akses akan semakin mudah, sehingga akan berpengaruh terhadap harga tiket penerbangan dan frekuensi penerbangan ke destinasi-destinasi tersebut,” katanya. (beritasatu.com)

KOMENTAR