[dropcap]K[/dropcap]eceriaan terpancar dari wajah-wajah pengunjung dewasa di pesta rakyat Sampoerna Kretek Asyiiik Fest 2012 di Lapangan Bondol, Semplak Bogor, Sabtu pekan lalu.

Mereka datang beramai-ramai untuk memeriahkan ajang pesta rakyat Sampoerna Kretek Asyiiik Fest. Keceriaan yang sama terpancar pula dari beberapa seniman yang menyemarakkan pesta rakyat tersebut. Diantaranya kesenian Langgir Badong, Komunitas Ontel Bogor, Babendjo asuhan Saung Mang Udjo, beberapa penari dan penyanyi dangdut.

Keceriaan mereka terlihat begitu masuk ke dalam lapangan yang berada di sekitar areal Lanud Atang Sanjaya, langsung disambut dengan alunan musik dangdut yang meriah dan beberapa peserta yang tampak asyik berjoget beramai-ramai.

Beberapa pojok makanan dan minuman khas kuliner Bogor seperti laksa Bogor, toge goreng Ma Evon, asinan sedap gedong dalam berjejer rapi di sudut lapangan samping panggung dangdut. Begitu pula minuman khas Bogor turut disajikan diantaranya es mangga dan pala aming.

Beberapa permainan juga ditawarkan panitia agar pengunjung tidak merasa bosan berlama-lama di lapangan yang dijaga beberapa petugas keamanan. Diantaranya permainan catur, enggrang, permainan bakiak panjang,galaksin, dadu, gasing, lomba kecepatan mencopot sadel ontel dan memasangnya kembali serta suguhan atraksi lomba karaoke dan joget.

Melihat maraknya kembali kemunculan budaya lokal untuk meminimalisir dampak pengaruh budaya barat khususnya dalam kesenian, Brand Manager Sampoerna Kretek Astari Fitriani menuturkanmunculnya kebanggaan generasi muda terhadap budaya lokal yang dikemas dalam bentuk kontemporer harus diapresiasi.

Dan pihaknya mewujudkannya dalam Sampoerna Kretek Asyiiik Fest
“Yakni sebuah hiburan yang disajikan dalam bentuk pesta rakyat dan menghadirkan semua unsur budaya lokal mulai dari kesenian musiknya, kuliner hingga kegiatan interaktif tradisional”, katanya ramah.

Sampoerna sendiri mulai tahun ini memang sengaja menggelar dan mengangkat budaya lokal. Tidak hanya Bogor, sejumlah tempat Malang, Semarang, Sukabumi, Karawang dan Bandung menjadi persinggahan untuk ajang pesta rakyat yang diusung Sampoerna. Ajang yang dimulai sejak Juni-November 2012 ini terdiri dari tiga kegiatan utama yaitu KreAsyiiik Mobile Entertainment, KreAsyiiik Fest dan Grand Event Asyiiik Fest.

Dan di Bogor kemarin menjadi ajang penutupan seluruh rangkaian Sampoerna Kretek Asyiiik Fest 2012.

Menurut Astari, kegiatan Sampoerna Kretek Asyiiik Fest sengaja dipadukan dengan keseharian budaya lokal masyarakat Indonesia yang menonjolkan sisi riang dan guyubnya budaya lokal Indonesia. Nilai-nilai lokal seperti kebersamaan, kekompakkan dan optimisme diyakini sebagai

The Lighter Side of Indonesian Spirit yakni sebuah semangat yang sebenarnya mengakar dan menjadi cirri khas masyarakat Indonesia. Inilah yang dicoba dihadirkan dalam Sampoerna Kretek Asyiiik Fest.

Tradisi Asli Jangan Hilang
Asyiknya budaya lokal memang menggambarkan suasana kebersamaan, kekompakkan dan optimisme peserta pesta rakyat. Begitu juga suasana kebersamaan sengaja ditonjolkan para seniman yang memeriahkan ajang ini.

Hal ini terlihat dari suasana kebersamaan, kekompakkan dan optimisme dari seniman Ade Suarsa yang mengangkat kesenian Langgir Badong yaitu kesenian alat musik bambu yang digendong atau dikenal dengan istilah badong.

Tradisi masyarakat Indonesia terkenal dengan keguyuban dan nuansa kebersamaan. Suasana kebersamaan ini terlihat hampir disemua budaya lokal masyarakat Indonesia.

“Fenomena yang berkembang saat ini adalah munculnya apresiasi dan kebanggaan terhadap budaya lokal dalam kemasan kontemporer atau modern. Kami misalnya berkreasi untuk menghadirkan alat musik bambu tradisional dalam kemasan yang lebih mudah dinikmati oleh semua orang”, kata Kang Ade di sela pesta rakyat tersebut.

Hal senada diungkapkan Bhawika dari Saung Mang Udjo yang mengaku konsep budaya lokal yang dikemas di Saung Mang Udjo bahkan lebih modernis. Tidak hanya konsep musik angklung yang dipadukan dengan jenis musik kontemporer lainnya. Namun konsep manajemen penataan budaya lokal dikemas lebih apik dan profesional. Caranya mewadahi kesenian ini. dalam wadah perseroan terbatas.

Bhawika yang menjadi jubir dari Saung Mang Udjo menuturkan, bukan tanpa alasan konsep yang diusung dan diwariskan almarhum Mang Udjo dikonsep secara secara modern. Ini dimaksudkan agar budaya lokal bisa lebih menonjol dan komersil dengan cara pengelolaan yang lebih profesional.

Pihaknya sengaja memasukkan pengelolaan Saung Mang Udjo untuk dimasukkan dalam perseroan terbatas agar budaya lokal tidak “mati”. Terbukti, Saung Mang Udjo yang pengelolaannya banyak ditangani anak-anak almarhum Mang Udjo ini terkenal gaungnya di belahan dunia. Banyak sudah penggiat budaya lokal dari negara luar belajar dan bertandang ke Saung Mang Udjo untuk mengenal lebih dalam konsep budaya lokal yang dikemasnya. Sebaliknya Sanggar Mang Udjo pun banyak berkelana ke berbagai belahan dunia.

Namun diingatkan sejarawan muda dari Universitas Indonesia, JJ Rizal, semangat mempertahankan tradisi budaya lokal jangan sampai tergerus dengan semangat berlebih melakukan kreasi. Seniman harus jeli mana yang harus dipertahankan dalam budaya lokal yang menjadi ciri khas budaya tersebut dan mana budaya yang bisa dikreasikan secara komersial.

“Contohnya kesenian lenong, aslinya lenong betawi itu dimainkan semalam suntuk. Namun kini, lenong hanya dimainkan sejam, dua jam. Bahkan muncul kreasi lenong seperti lenong bocah. Para seniman lenong seharusnya bisa mengerem kreasi lenong, agar tradisi asli lenong bisa dipertahankan. Jangan karena komersil, tradisi asli lenong jadi hilang. Begitu pula semua budaya lokal lainnya”, katanya.

Ia juga setuju upaya budaya lokal dikemas secara apik dan manajemen profesional mutlak perlu dilakukan. Pasalnya pemerintah juga masih terlihat setengah hati dalam mengayomi budaya lokal. Mau tak mau berbagai terobosan perlu dicari agar budaya lokal masih bisa eksis dengan pengelolaan yang lebih profesional.

Caranya seperti yang dilakukan Saung Mang Udjo dengan memasukkan manajemen pengelolaan budaya lokal ke dalam perseroan terbatas (PT).

Menurut Rizal, jangan sampai semangat mempertahankan budaya lokal dalam manajemen profesional menghilangkan identitas budaya lokal itu sendiri.

Di sisi lain, ia juga menilai upaya pemerintah mempertahankan budaya lokal masih belum sepenuhnya komit. Pasalnya, era orde baru selama 32 tahun masih memasang. mind set adanya kekuasaan pusat dan daerah.

Hal ini berimbas pula kepada pengakuan budaya yang masih mengkotak-kotakkan pusat dan daerah ditambah dengan adanya UU No 32 Tahun 2004
tentang legitimasi pemerintahan daerah.

“Sumpah Pemuda, dimana berdarah satu tanah Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia dan berbahasa satu bahasa Indonesia. Ada kekuasaan sentralistik yang hanya mengakui satu tanah, satu bangsa dan satu bahasa. Di luar itu daerah tidak diakui. Legitimasi
amandemen undang-undang ini berimbas pula pada pengakuan pemerintah terhadap budaya lokal”, jelasnya.

Menurut Rizal yang meraih penghargaan Anugerah Budaya dari Gubernur DKI tahun 2009, budaya lokal Indonesia kekayaannya sungguh luar biasa. Jika pemerintah bisa mewadahi ditambah dengan dukungan berbagai perusahaan besar untuk menampung dan melestarikan budaya lokal, semangat mempertahankan, kekompakkan dan kebersamaan dalam tradisi asli budaya lokal juga tak akan mudah tergerus budaya asing yang terus membanjiri bangsa ini. (harianterbit.com)

KOMENTAR