Singapura, Seputar Aceh, Antara – Pemerintah Indonesia menawarkan investasi di bidang panas bumi (geothermal) kepada Selandia Baru, untuk mengembangkan sumber energi ramah lingkungan selaras dengan prinsip pertumbuhan hijau (green growth).

“Kalau geothermal, yang punya teknologi itu Selandia Baru. Jadi, tadi kita bicarakan itu dengan Selandia Baru,” kata Menteri Perindustrian MS Hidayat di Hotel Marina Mandarin, Singapura, Sabtu, usai mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri pertemuan dwipihak dengan Perdana Menteri Selandia Baru John Key.

Hidayat mengatakan usai pertemuan itu Presiden Yudhoyono memberikan arahan kepada para menteri untuk menitikberatkan sejumlah kerja sama denga beberapa negara yang memang memiliki keahlian di bidang itu, misalnya Selandia Baru.

“Kita mau tawarkan investasi geothermal dari Selandia Baru, untuk 10 ribu megawatt, berikutnya nanti itu kan 40 persennya adalah geothermal, yang ramah lingkungan,” ujarnya.

Hidayat mengatakan bahwa untuk mengembangkan energi panas bumi pemerintah perlu segera menentukan kebijakan harganya sehingga pengusaha yang berminat dapat segera menghitung keberlanjutan investasi di bidang itu.

“Jika secara komersial layak maka bisa berlanjut. Tapi, kalau dari hitungan ekonominya tidak, maka mereka tidak akan berani masuk,” ujarnya.

Saat ditanya tentang reaksi dari pemerintah Selandia Baru atas tawaran dari Pemerintah Indonesia, ia mengatakan bahwa Perdana Menteri John Key meminta Indonesia menentukan jenis pengembangan energi panas bumi yang diminati dan kemudian pemerintah Selandia Baru akan mendorong pihak swasta di negaranya untuk menjajaki investasi di Indonesia.

Selain menawarkan kepada Selandia Baru, Indonesia juga menawarkan investasi bidang panas bumi kepada Jepang.

Presiden Yudhoyono menghadiri pertemuan dwipihak dengan Perdana Menteri Johh Key selama lebih kurang 30 menit pada Sabtu pagi, sebelum kedua kepala pemerintahan mengikuti pembukaan pertemuan puncak ke-17 Forum Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Singapura. [sa-ant]

KOMENTAR