Madinah — Menjelang kepulangan jamaah haji Indonesia ke tanah air, jumlah jamaah haji Indonesia yang wafat di tanah suci hingga Selasa (20/11) terus bertambah. Bahkan, hingga Senin (19/11) sudah mencapai 398 orang.

Data Siskohat (Sistem Komputerisasi Haji Terpadu), merinci jumlah jamaah haji yang wafat di Makkah mencapai 318 orang, 35 orang di Madinah, 25 jamaah di Mina, sembilan orang di Jeddah, enam orang di Arafah, dan lima lainnya di perjalanan.

Dibanding tahun 2011 dan 2010, jumlah jamaah yang wafat ini tersebut jauh lebih rendah. Dalam periode waktu yang sama, pada 2010 jamaah haji yang wafat sekitar 414 orang. Sedangkan pada 2011 mencapai 476 jiwa jamaah.

“Sebagian penyebab kematian jamaah tersebut, selain usia tapi juga penyakit bawaan, seperti gangguan sistem sirkulasi dan pernapasan. Bahkan ada akibat penyakit infeksi dan parasit, masalah nutrisi hingga adanya penyakit darah serta trauma dan keracunan,” kata Kepala BPHI Jeddah Ananto Prasetya, Senin (19/11).

Sementara seorang jamaah haji asal Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, Lihun bin Amir (68) wafat di dalam bus. Almarhum yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) PLM 20 ini dinyatakan sudah meninggal ketika melakukan perjalanan dari Madinah menuju Jeddah.

Kepala BPHI Jeddah Ananto Prasetya memaparkan, jamaah haji dengan nomor pasport A 3084963 ini menghadap Sang Khaliq karena mengalami gangguan jantung pada Minggu (18/11) pukul 12.00 waktu Arab Saudi. Lihun langsung di bawa ke Rumah Sakit (RS) Shisha, Makkah.

Pasien Perokok

Sesak napas yang jadi salah satu penyebab kematian, umumnya jamaah perokok. Tercatat
jumlah pasien yang sakit akibat merokok, mendominasi ruang perawatan di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) Madinah, Arab Saudi.

Kepala BPHI Madinah dr Septa Ekanita Hakim, di Madinah, Arab Saudi,memgatakan, kebanyakan jamaah yang dirawat adalah laki-laki, rata-rata mereka perokok.
Sejak tiga hari lalu, tutur dia, BPHI Madinah merawat 40 lebih pasien. ”Hampir 80 persen kapasitas BPHI Madinah terisi, 30 persen adalah pasien gangguan paru-paru dan pernapasan,” kata Ekanita.

Dia mengatakan, faktor kelelahan dan suhu udara yang dingin di Madinah, turut memicu penurunan kesehatan jemaah. Apalagi, lanjut dia, sebagian besar jemaah merupakan lanjut usia yang mengidap penyakit bawaan seperti jantung, pneumonia, diabetes mellitus.

Kondisi tersebut kian diperparah karena yang bersangkutan juga merokok. Bahkan, sebagian besar jamaah lansia yang mengalami gangguan kembang-kempis paru itu, punya kebiasaan merokok. Kalau hanya dehidrasi, mudah menanganinya. Masalah muncul, karena mereka juga ada dasar penyakit tertentu.

“Bagi jamaah yang mengalami gangguan paru atau PPOK, mereka juga akan lebih mudah terinfeksi,” ujarnya.

Ekanita menjelaskan, PPOK adalah Penyakit Paru Obstruktif Kronik, atau dalam bahasa Inggris Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) yakni penyakit paru kronik.

“PPOK ditandai dengan keterbatasan aliran udara di dalam saluran napas yang tidak sepenuhnya reversibel, bersifat progresif, dan biasanya disebabkan oleh proses inflamasi paru yang disebabkan oleh pajanan gas berbahaya yang dapat memberikan gambaran gangguan sistemik,” ujarnya.

Menurut Ekanita, penyebab utama PPOK adalah rokok, asap polusi dari pembakaran, dan partikel gas berbahaya. “Gangguan aliran udara dalam saluran napas disebabkan proses inflamasi paru yang menyebabkan terjadinya kombinasi penyakit saluran napas kecil (small airway disease) dan destruksi parenkim (emfisema),” katanya. (harianterbit.com)

KOMENTAR