Tas motif Aceh (Fot Sugito Tassan/Medan Bisnis)Lhokseumawe — Berbagai kerajinan motif Aceh yang diproduk sejumlah pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di Desa Batuphat Timur, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, ternyata memiliki daya saing cukup tinggi sehingga mampu menembus pasar luar negeri yakni Malaysia.

Berbagai jenis konveksi itu diproduksi UKM binaan Dewan Kerajinan Rakyat Nasional (Dekranas) Lhokseumawe. Untuk memperluas peluang pasar, produk mereka ikut dipamerkan di arena Pameran Lhokseumawe Membangun 2012 di Kompleks Terminal Angkutan Kota Lhokseumawe.

“Selama ini hasil kerajinan UKM dari Desa Batuphat sudah banyak dipasarkan di tingkat lokal, bahkan saat ini sudah menembus pasar luar negeri terutama Malaysia. Hanya saja soal tenaga kerja masih kewalahan, karena untuk merajut membutuhkan skill, sedangkan tenaga yang ada masih kurang,” ujar penjaga stan Dekranas Lhokseumawe, Titin didampingi Linda kepada MedanBisnis, Senin (19/11).

Oleh karena itu, ungkap keduanya, para perajin berharap mendapat suntikan dana perbankan. “Soalnya modal juga merupakan kendala mereka, salah satunya untuk membentuk tenaga skill yang membutuhkan pelatihan secara kontiniu. Makanya kalau ada perbankan yang membantu modal kerja, akan sangat bermanfaat bagi UKM,” jelas Titin.

Berbagai jenis konfeksi dijual dengan cukup bersaing, seperti bordir pucuk rebung seharga Rp 180.000, tas pakaian Rp 140.000, serta tas sandang yang bisa digunakan untuk membawa pakaian ganti Rp 135.000.

“Soal harga masih terjangkau masyarakat. Saat ini toko-toko souvenir yang ada di Aceh banyak menampung produk UKM dari Lhokseumawe. Selain bordir dan tas berbagai ukuran, banyak juga perajin membuat tikar, dompet, taplak meja dan aksesoris lain,” katanya.

Selama mengikuti Pameran Lhokseumawe Membangun 2012, pesanan sudah lumayan, bahkan ada juga pengunjung yang langsung menawar di tempat. “Lumayan juga, pesanan sudah mulai ada, bahkan banyak juga pengunjung langsung beli di pameran,” kata Titin mengakhiri. (medanbisnisdaily.com)

KOMENTAR