Sudah sejak lama tikar pandan hasil kreativitas lentik jemari para perempuan Desa Peukan Baro dan Rawa Gampong, Pidie merambah ke berbagai kota di Aceh.

Ciri khas sistem pemasaran tikar pandan adalah, ibu-ibu setengah usia membawa buntelan gulungan tikar ini di atas kepala dan dijajakan dengan berjalan kaki hingga memasuki lorong-lorong di perkotaan.

Hasil keuletan menganyam dan kesabaran meniti waktu bersama serajut demi serajut helaian pandan kering, ini tak tergoyahkan oleh kehadiran tikar plastik produk industri.

Sebagai daerah pesisir yang bertanah gembur dan berpasir, Desa Peukan Baro dan Desa Rawa Gampong, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie, di sini banyak tumbuh pohon pandan berduri sebagai bahan baku pembuatan tikar pandan.
Hampir 90 persen perempuan di kedua desa ini, baik yang sudah berusia tua, dewasa bahkan para remaja putri, berprofesi sebagai perajin tika seuke (istilah setempat).

Selembar tikar ukuran 8 kaki yang lama pembuatannya mencapai dua hari, dijual seharga Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per lembar. Yang berukuran 10 kaki dengan lama rajutannya mencapai tujuh hari, dijual seharga Rp50 ribu hingga Rp75 ribu per lembar. Sedangkan yang berukuran 12 kaki dengan masa pembuatannya hingga mencapai dua minggu, dijual dengan harga Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per lembar.

Di sana, sejarah keuletan merubah pandan menjadi tikar, sudah terentang panjang sebagai sebuah aktivitas tradisi dan dilakukan secara turun-temurun.

Di kedua desa tepian Selat Malaka itu, manakala laki-laki pergi ke laut, para perempuan tetap di rumah. Mengurus dapur. Menjaga anak. Dan, merajut tikar pandan. Segenap kearifan dari kesabaran merenda waktu bersama romantika gerak lentik jemari yang pernah dimiliki oleh para perempuan di dunia, seakan ada di sini. Di Peukan Baro. Di Rawa Gampong.(*/ha/musmarwan)

KOMENTAR