Banda Aceh – Populasi harimau Sumatera (Panthera Trigis Sumatrae) di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) Provinsi Aceh kini diperkirakan tinggal sekitar 150 ekor akibat perburuan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir di daerah tersebut.

“Harimau di Ekosistem Leuser hanya tinggal antara 116-150 ekor lagi. Mereka terancam punah akibat perburuan yang dilakukan manusia,” kata Manager Yayasan Leuser International (YLI) G.V. Reddy di Banda Aceh, Senin.
Populasi harimau Sumatera dikhawatirkan terus menyusut karena selama ini mereka makin sulit memperoleh makanan akibat maraknya perburuan yang dilakukan manusia.

“Mereka (harimau) makin sulit mendapatkan makanan seperti rusa dan babi sehingga sering turun ke pemukiman warga untuk mencari kebutuhan hidup, yang akhirnya muncul konflik antara satwa-manusia,” jelas Reddy.
Di pemukiman warga masyarakat, harimau sering memangsa ternak dan apa saja yang menjadi makanan “raja hutan” itu, sehingga keselamatan binatang tersebut menjadi terancam.

Konflik satwa (harimau) dengan manusia sering terjadi di KEL khususnya pantai Barat Selatan Aceh, terutama dalam kurun empat tahun terakhir, tambahnya.

“Antara 2006-2009, setidaknya 15 ekor harimau terbunuh karena konflik antara satwa dan manusia. Yang terbanyak di Kabupaten Aceh Selatan,” kata Reddy.

Menurut dia, upaya penyelamatan binatang dilindungi itu harus didukung oleh semua pihak, khususnya masyarakat melalui upaya menyadarkan warga sekitar hutan.

Jika hal ini tidak segera ditanggulangi, Reddy memperkirakan, dalam kurun waktu sepuluh tahun mendatang harimau di KEL akan terus berkurang dan akhirnya punah.

Hutan Aceh dan Kerinci di Provinsi Riau merupakan tempat yang aman bagi populasi harimau di sumatera, di banding lokasi lain sehingga semua pihak perlu meningkatkan kesadarannya.(*/ha)

KOMENTAR