Jakarta — Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia baru saja dinobatkan sebagai salah satu lembaga riset elite dunia oleh Webometrics pada akhir Juli 2012 lalu.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lukman Hakim mengatakan lembaga itu menembus kelompok elite top 2 persen lembaga riset dunia.

“Capaian ini cukup membanggakan, yang juga sekaligus membuktikan bahwa dalam kondisi keterbatasan anggaran, fasilitas dan kurangnya dukungan politik, peneliti LIPI tetap mampu bekerja tekun dan serius untuk menghasilkan karya ilmiah kelas dunia,” kata Lukman Hakim di Jakarta, Rabu (29/8).

Indonesia sebagai negara berkembang, menurutnya memang belum bisa dikatakan memiliki kesadaran yang tinggi terhadap riset.

Saat ini, jumlah peneliti resmi yang dimiliki Indonesia hanya 8.000 orang dari jumlah penduduk mencapai 237.641.326 orang.

Hal itu, berbeda jauh dengan Korea Selatan yang memiliki peneliti resmi hingga 270 ribu orang, dengan jumlah penduduk hanya berkisar 55 juta orang.

“Anggaran riset di Korea Selatan mencapai 4 persen dari PDB, sedangkan Indonesia hanya 0,03 persen dari PDB. Dibandingkan negara-negara lain, termasuk Malaysia dan Singapura, jumlah anggaran dan peneliti riset kita memang kalah jauh,” kata Lukman Hakim.

Namun di balik kekurangan-kekurangan itu, Lukman mengatakan cukup membanggakan bila LIPI sebagai institusi riset Indonesia mampu disejajarkan dengan lembaga riset lain yang ada di dunia.

Dia mengatakan salah satu peran dan fungsi LIPI ialah sebagai lembaga pembina para peneliti di seluruh Indonesia yang tersebar di berbagai institusi.

LIPI juga ditunjuk sebagai pemegang otoritas untuk berbagai bidang keilmuan seperti keragaman hayati, kebun raya, pengukuran, pengujian dan sebagainya.

“Sampai saat ini LIPI telah melahirkan lebih dari 300 orang profesor riset yang aktif di berbagai lembaga riset, kementerian maupun pemerintah daerah,” Tutup Lukman Hakim. (iposnews.com)

KOMENTAR