Mekkah — Menjelang hari raya Idul Fitri, suasana di Tanah Suci Mekkah dan Madinah sangat berbeda dengan kondisi di Tanah Air. Umumnya, di Tanah Air, selepas salat Maghrib atau Isya, gema suara takbir menggema dari masjid ke masjid. Letusan petasan membahana ke seluruh angkasa raya.

Tidak hanya itu, menyemarakkan suasana malam Lebaran, pawai takbir atau obor dilakukan secara berjamaah.

Selepas salat Isya, umumnya jalan-jalan di Tanah Air macet dan terkadang terjadi kecelakaan. Masyarakat berduyun-duyun melakukan takbiran bersama. Suasana hening berubah menjadi keramaian.

Di Tanah Suci, selama berabad-abad agenda pawai takbir keliling tidak pernah dilakukan. Menggemakan kalimat Allahu Akbar (takbir) melalui pengeras suara di masjid hanya dilakukan setelah salat Subuh, yakni pada tanggal 1 Syawal. Bukan dilakukan sebelum perayaan Lebaran itu sendiri.

Meskipun hari itu terakhir puasa Ramadan, umat muslim di Tanah Suci tidak melakukan keramaian seperti yang dilakukan umat muslim di Tanah Air. Aktivitas berjalan normal seperti hari-hari biasa. Selepas salat Magrib dan Isya di Masjid Nabawi Madinah dan Masjidil Haram di Mekkah, masing-masing bekerja sesuai dengan rutinitasnya.

Pedagang pakaian misalnya, menjelang malam Lebaran mereka tetap berjualan di kios atau malnya. Sedangkan sopir bus atau taksi tetap melakukan rutinitas seperti biasanya. Begitu juga dengan aparat kepolisian atau masyarakat muslim yang memiliki berprofesi lain. Semuanya kembali kepada pekerjaan individualnya.

Termasuk jemaah dari Tanah Air yang sedang menunaikan ibadah di Tanah Suci. Mereka tidak melakukan apa-apa kecuali beribadah dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta di dua masjid suci itu. Jika tahun sebelumnya mereka bisa menikmati sajian opor ayam, kini di Tanah Suci diganti dengan menikmati Zam-zam atau kurma.

Alasannya, pihak penyedia makanan di hotel (cathering) tidak pernah memasak opor ayam atau rendang. Meskipun pemasaknya adalah orang-orang Indonesia yang bekerja di Arab Saudi. Sajian menu makanan di hotel tetap masakan Indonesia, hanya saja menunya bukan opor ayam khas Lebaran atau rendang.

Hal ini yang dituturkan oleh seorang jemaah umrah dari Jakarta Indonesia, H Azib Susiyanto. Kepada Tribun Batam (Tribun Network), Sabtu (18/8/2012) dia mengisahkan sebagian aktivitasnya selama umrah Ramadan.

“Jujur sangat berbeda nuansa malam Lebaran di sini. Masyarakat beraktivitas seperti biasanya. Tidak ada pawai obor atau arak-arakan sepeda motor seperti di Tanah Air,” ujar Azib melalui sambungan ponselnya. (tribunnews.com)