Selama 15 tahun janda tua, Sarifa (67) Warga Desa Dihit, Kecamatan Simeulue Tengah, untuk menyambung hidupnya dengan menganyam tikar yang terbuat dari daun pandan. Dalam sebulan bisa menghasilkan dua sampai tiga lembar tikar. Tikar itu ia jual antara Rp50 ribu sampai Rp100.000 per lembar.

15 tahun lalu juga, Sarifa ditinggal mati suaminya Jahara. Ia terpaksa banting setir dari ibu rumah tungga menjadi orang tua tunggal untuk menyambung nyawa tiga putera puterinya yang kini telah berkeluarga dan telah berpencar.

Setelah ke tiga buah hatinya berkeluarga, kini Sarifa  lebih memilih hidup seorang diri di rumah bantuan dari salah satu NGO asing. Sarifa tidak perna memberatkan beban anaknya yang juga hidup pas-pasan.

Saat wartawan bertandang kerumahnya terlihat janda tua tersebut sedang mengolah bahan material tikar pandan. Walaupun usia senjanya namun kedua bola matanya terkesan masih jauh dari penyakit rabun, sebab pekerjaan anyam menganyam tikar pandan membutuhkan ketajaman mata.

Sarifa yang mengolah daun pandan mentah di teras rumahnya, bisa dengan leluasa melihat setiap tamu yang datang. “Silakan duduk cucuku, dari mana dan mau kemana, apa ada yang bisa nenek bantu, atau mungkin mau beli tikar,” katanya dengan logat bahasa Pulau Simeulue yang kental..

Cerita panjang pun mengalir dari bibir janda tua Sarifa tentang sistim pengolahan menganyam tikar. Tanaman jenis pandan yang daunnya berduri dan hidup subur hampir merata di setiap arel pulau Simeulue. Pemilihan material daun pandan dipilih yang telah memiliki panjang antara dua sampai tiga meter.

Pengambilan daun pandan yang  meminta tumbal darah akibat  durinya yang tidak bersahabat, membutuhkan keahlian bagi seorang penganyam tikar pandan. Setelah material daun pandan yang bermutu dan layak di pakai, proses selanjutnya dipotong, dibelah-belah antara setengah centimeter hingga satu centimeter dengan seutas tali pancing lalu dijemur, setelah itu rebus dengan air panas dan kembali dijemur di panas matahari hingga berubah warna dari hijua menjadi putih.

Proses panjang dan melelahkan tersebut belum berhenti yang selanjutnya diluruskan secara manual memakai sekeping alat yang terbuat dari bambu. Setelah lurus kembali diwarnai sesuai dengan kebutuhan dan motif tikar. Kembali lagi dijemur dan diluruskan. Proses lain yang terberat saat pembuatan tikar yang dilakukan dengan psosisi duduk siang malam yang mengakibatkan para penganyam tikar didera sakit pingga.

Sarifa melakoni ruitinitas pembuatan anyam menganyam tikar tersebut tidak jarang mengalami sakit pinggang akibat kelamaan duduk. Rasa sakit dan penderitaan panjang untuk mendapatkan sehelai tikar pandan harus ditebus dengan pnderitaan. Awalnya nenek janda yang berperawakan kurus tersebut perna mendapat bantuan modal dari salah seorang anaknya untuk jualan.

Untuk membangkitkan bisnis jualan kecil-kecilan tersebut sempat mengajukan Proposal permohonan bantuan kepada Pemeritah Daerah Simeulue pada Awal Tahun 2009, namun hingga kini permohonannya tidak perna terkabul.

Tikar Pandan merupakan tikar kerajinan tradisional Pulau Simeulue yang hampir merata di kerjakan para wanita, bahkan perna menjadi pameo atau standar, setiap seorang wanita yang akan menikah, telah mengkoleksi 100 helai tikar dari berbagai jenis. Namun standar tersebut semakin hilang, disebabkan telah hadirnya tikar-tikar produk pabrikan.ahmadi

KOMENTAR