Banda Aceh – Lemahnya pengawasan dari Tim Pemantau Independent (TPI) dinilai penyebab terjadinya kecurangan pada pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di Aceh pada tahun ini.

“Pengawas dilarang memeriksa satu persatu bangku siswa. Selain itu, banyak ditemukan siswa membawa masuk HP ke ruangan ujian,” kata pemerhati pendidikan Aceh Budi Azhari, M. Pd, kemarin.

Ketua Asosiasi Sarjana Pendidikan Aceh (ASPA) ini juga menilai terjadinya kecurangan UN akibat guru dan kepala sekolah tidak siap jika dicap gagal oleh dinas dan orang tua murid. Sehingga para pengajar itu menggunakan jalan pintas dengan membocorkan soal ke siswanya.

Pelanggaran ini kemudian berjalan baik karena tidak ada protes maupun pemantauan dari tim pengawasan independen di lapangan.

“Kita melihat pengawas dan guru bersekongkol di sini. Untuk apa UN dipertahankan jika masih ada kecurangan seperti ini. Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) untuk menghapus UN sudah benar sehingga harus dapat menerima dan tidak mengorbankan siswa lagi,” kata Dosen Tarbiyah ini.

Sementara Ketua Presidium Kobar GB Aceh Sayuthi Aulia mengungkapkan ada indikasi sejumlah sekolah sengaja menyiapkan ‘gacok’ untuk membantu siap menjawab UN. Dirinya menilai sekolah belum siap dicemoohkan bila nilai siswa anjlok nantinya.

“Kecurangan di UN bukti guru, kepala sekolah dan dinas belum mampu menerima nilai murni siswa. Kita meminta kasus kecurangan ini diusut kepolisian nantinya,” pinta Sayuthi.(*/ha/crd)