Tapaktuan, Seputar Aceh- Populasi harimau Sumatera (Phantera Tigris Sumaterae) yang menetap di hutan-hutan di Pulau Sumatera diperkirakan hanya tinggal sekitar 500 ekor. Jumlah tersebut terus menurun, akibat perburuan, terperangkap jerat babi dan pembukaan lahan perkebunan oleh masyarakat.

“Perburuan memang menurun, tapi pembukaan lahan masih menjadi ancaman besar terhadap kelestarian harimau Sumatera,” ungkap Kepala Taman Nasional Gunung Lauser wilayah I, Rusman, di Tapaktuan, Kamis (22/10).

Pembukaan lahan mengakibatkan berkurangnya wilayah jelajah harimau untuk mencari makan, sehingga satwa dilindungi itu memasuki perkebunan dan pemukiman warga. “Berkurangnya luas habitat harimau ini telah memicu terjadinya konflik antara satwa dengan penduduk yang tinggal di sekitar kawasan hutan setempat,” ujar Rusman.

Menurut dia, Kabupaten Aceh Selatan merupakan salah satu daerah yang berada di kawasan Gunung Leuser yang dinilai rentan terjadi gangguan oleh satwa seperti harimau dan binatang liar lainnya seperti gajah dan beruang. Kasus gangguan harimau di daerah penghasil pala tersebut setiap tahun meningkat. Bahkan sejak 2006 hingga 2008 lebih dari 10 orang meninggal karena diterkam satwa.

Rusman mengatakan untuk meminimalkan risiko konflik satwa dengan manusia di pesisir Samudra Hindia itu, pihaknya telah melakukan sosialisasi tentang undang-undang perlindungan satwa dan kelestarian alam. [sa-jmg-ant]

KOMENTAR