Banda Aceh – Belasan aktivis perempuan Aceh menggelar aksi simpati pada peringatan Hari Perempuan Internasional di Simpang Lima, Kota Banda Aceh, Senin (8/3/2010). Mereka mengklaim perempuan Aceh masih hidup di bawah bayang-bayang diskriminasi dan eksploitasi.

“Perempuan Aceh masih didiskriminasi dalam pendidikan, sosial dan politik. Akibatnya sangat sedikit perempuan Aceh bisa duduk di kursi legislatif pada tahun ini,” kata juru bicara aksi Ninie Rahayu dalam orasinya, kemarin.

Ninie menyatakan masih saja ada temuan kekerasan terhadap perempuan,  meski Pemerintah Aceh telah mengesahkan Qanun Aceh nomor 6 tahun 2009 tentang pemberdayaan dan perlindungan perempuan.

“Hingga kini masih trafficking dan bentuk diskrimasi lainnya terhadap perempuan. Dengan peringatan hari perempuan internasional ini, kami mengajak semua pihak kembali fokus dan memberi solusi terhadap masalah-masalah perempuan,” kata Rahayu lagi.

Menurutnya peringatan Hari Perempuan Aceh berlangsung serentak di seluruh Aceh, kemarin. Dia berharap aksi itu bisa menyadarkan masyarakat Aceh tentang hak dan peran perempuan yang sama dengan kaum laki-laki.

“Stigma seorang perempuan lemah dan tidak mampu harus dihilangkan. Jika diberi kesempatan sama dengan pria, perempuan mampu menampilkan terbaik bagi bangsa dan agamanya,” kata dia.

Pada aksi kemarin, aktivis perempuan itu membagi-bagikan sejumlah selebaran dan balon kepada penggunan jalan sebagai pesan untuk tidak mendiskriminasikan kaum perempuan. Massa kemudian membubarkan diri sekitar pukul 10.00 WIB.(crd)

(Harian Aceh)

KOMENTAR