Bagok  – Sekitar 1000 lebih Kepala Kelurga di pedalaman Kecamatan Nurussalam- Bagok, Aceh Timur resah akibat jaringan PLN di ke desa meraka sudah sembilan tahun putus, sehingga  masayarakat disana saat malam hari terpaksa menggunakan panyoet ciloet ( Lampu Teplok).

Amatan Wartawan Minggu (4/4/2010), di tiga desa daerah itu yakni, Desa Kampoeng mesjid, Desa M Tiga, dan Desa Alue Siwah Serdang, kondisi malam hari di tiga desa itu sangat mencekam. Kini ditiga desa itu hanya tampak tiang PLN tak berkabel  yang masih  berdiri tegak, sedangkan kabelnya menurut penuturan warga disana telah raib sejak masa konflik dulu yaitu sejak ditahun 2001. “Fasilitas PLN dikampung kami saat ini hanya tinggal tiang doang sedangkan kabelnya telah raib dicuri pada masa konflik dulu oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” ungkap M. Yusuf (46) Keuchik Kampoeng Mesjid.

Menurutnya,  kondisi ini sangat terpengaruh  terhadap pendidikan agama bagi  anak-anak di kawasan ini  karena saat malam hari mereka tidak bisa mengaji, juga sangat terpengaruh terhadap pendidikan sekolah karena tidak bisa membuat PR dan mengulang mata pelajaran,.” Hidup kami semakin sengsara karena tampa lampu. Untuk menikmati informasi lewat televise saja tidak bisa,” jelasnya.

Sementara itu, Camat Kecamatan Nurussalam M Amin ,SE, membenarkan, ada tiga desa dalam wilayahnya sudah sejak sembilan tahun tidak mempunyai jaringan PLN, dan keluhan masyarakat terhadap hal itu telah ditanggapinya melalui membuat permohonan kepada pihak PLN dan pemerintah daerah. ”Telah beberapa kali kita ajukan permohonan  ke pihak PLN ranting Idi Rayeuk, dan kepada  pemerintah daerah Aceh Timur, namun  pada hari rabu kemarin  ada pihak PLN turun ke lokasi yaitu ke Kampoeng Mesjid untuk mengukur kembali jaringan PLN disana, apa itu mau disambung ulang, sayapun belumtahu persis, “ jelas M Amin

Dia menambahkan, apabila jaringan kabel PLN mau disambung kembali, masyarakat disana telah siap untuk mengizinkan pemotongan pohon dimana aliran kabel dilalui, dan masyarakat juga berjanji untuk siap menjaga fasilitas PLN agar tidak dicuri lagi oleh tangan-tangan jahil.

“Untuk itu kita berharap pihak PLN dan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur untuk dapat segera memikirkan penerangan terhadap warga tiga desa tersebut, setidaknya bulan puasa mendatang masyarat sudah menikmati kembali layanan PLN di desa mereka, agar aktivitas terawih dan kegiatan lainnya dapat berjalan lancar,” harapnya.(*/ha/cis)

KOMENTAR