Bupati Bireuen H Ruslan Daud diacara launching Festival Seudati di Jakarta (Foto Deffi Adha)Bireuen — Hari jadi atau HUT Kabupaten Bireuen ke-13 sebentar lagi, tepatnya tanggal 12 Oktober 2012 mendatang akan menjadi puncaknya.

Serangkaian acara untuk menyerakkan hari jadi kota Juang dengan berbagai kegiatan yang bernuansakan ke-Aceh-an telah dipersiapkan yang nantinya dimulai dari 6-10 Oktober 2012. Ada pun beberapa kegiatan yang digelar seperti Festival Seudati, Dalail Khairat, Lomba Pidato untuk Para Geuchiek, Sepeda Santai dan Sepakbola Eksekutif.

Selain pelaksanaan berbagai kegiatan lomba tersebut, pihak panitia juga akan melaksanakan pameran pembangunan yang akan dilaksanakan di Stadion Cot Gapu Bireuen yang berdampingan dengan Kantor Pusat Pemerintahan Bireuen.

Menurut Wakil Ketua Panitia HUT Bireuen ke-13, Drs Murdani, lomba Seudati Tunang digelar sebagai upaya pelestarian tarian khas Aceh yang heroisme, maka lomba tersebut digelar dari tingkat SD se-Bireuen yang meliputi 17 kecamatan. Masing-masing kesehatan mengirimkan satu tim.

Sementara itu untuk kegiatan sepakbola eksekutif itu akan dilaksanakan di Stadion Cot Gapu Bireuen dengan menurunkan 6 tim sepakbola, diantaranya tim dari Pemkab Bireuen, Anggota DPRK, Polres, Kodim, tim Camat serta dari tim KPA Bireuen. Dan semua kegiatan perlombaan ini akan dilaksanakan mulai 6-10 Oktober mendatang.

Terkait rangkaian kegiatan HUT Bireuen ke-13, Murdani mengharapkan agar semua elemen masyarakat Bireuen dapat mendukung sepenuhnya. Sehingga kegiatannya terlaksana dengan baik, dan sukses.

Festival Seudati Aceh

Sementara itu bertepatan dengan rangkaian acara HUT Ke-13 Bireuen, juga diadakan Festival Seudati Aceh 2012 yang merupakan promosi awal program Visit Aceh 2013 dan Bireuen telah ditetapkan sebagai tuan rumah festival tersebut.

Pelaksana panitia daerah, Dedi Kuswana didampingi Syech Seudati Mukhtar menyebutkan, Festival Seudati 2012 yang merupakan tarian dan kesenian khas Aceh memang dipercayakan Bireuen sebagai tuan rumah dalam pelaksanaan pagelaran budaya masyarakat untuk target mempromosikan pariwisata dan budaya Aceh.

Semula direncanakan September 2012, tetapi setelah dikoordinasikan dengan pihak Pemkab Bireuen diundurkan pelaksanaannya menjadi 8–10 Oktober 2012 nanti di Bireuen, bersamaan dengan HUT Bireuen ke-13.

Pelaksanaan Festival Seudati se-Aceh bukan saja rangkaian pagelaran mempromosikan pariwisata dan budaya Aceh untuk Indonesia. Tetapi, juga budaya masyarakat itu dipromosikan di level yang lebih luas terutama kawasan ASEAN.

Dijelaskan, program Visit Aceh 2013 dipilih tari Seudati karena selain tarian khas Aceh yang heroisme, Seudati juga unik dan penuh nilai sejarah. Sehingga Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sapta Nirwandar sangat menarik memilih Seudati, apalagi dianggapnya sangat potensi sebagai salah satu produk budaya khas masyarakat Aceh.

Dedi juga sangat mengharapkan agar seluruh komponen masyarakat mendukungnya dengan positif, sehingga nantinya event tersebut mampu meningkatkan kebudayaan khas Aceh itu ke level Internasional.

Disebutkan, Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri Kemenparekraf M Faried ketika launching pada 11 Agustus lalu di Jakarta menyatakan, sangat mendukung bahkan mereka antusias acaranya akan sukses.

Dengan demikian tambah Dedi, agar festival tersebut terlaksana dengan baik dan merupakan event dalam agenda tahunan, Pemkab Bireuen juga mendukung sepenuhnya. Apalagi ke depan pelaksanaan kontinyu pelaksanaannya mulai tahun 2013.

Sementara Bupati Bireuen H Ruslan HM Daud sebelumnya mengatakan, pelaksanaan Festival Seudati 2012 harus menjadi momentum yang berharga di tengah maraknya klaim pihak asing terhadap budaya Indonesia sebagai warisan budaya bangsa lain.

“Selain itu H Ruslan juga merasa bangga atas perhatian pemerintah dalam memperkenalkan Tari Seudati secara luas dan menjadikannya sebagai event Nasional. Kami berharap budaya Aceh akan terus merambah menjadi event Internasional,” katanya seraya menyebutkan sektor pariwisata di Aceh harus mampu memberikan kontribusi yang besar terhadap pendapatan asli daerah (PAD). (*/Harian Andalas)

KOMENTAR