Pasya Ungu

Pengalaman hidup jauh di rantau menginspirasi Ungu dalam membuat single terbaru yang akan dirilis di bulan Ramadhan tahun ini. Tema yang diangkat adalah tentang sosok seorang ibu, yang bagi mereka adalah sosok yang tak tergantikan. Kerinduan untuk bertemu pada sang ibu menjadi jiwa dalam single tersebut. Siapa sih yang lebih banyak berperan dalam penggarapan lagu tersebut?

“Kalau lagunya saya serahin ke anak-anak Ungu. Kalau penciptaan lirik lumayan lama, karena gue pikirin banget liriknya. Pengen kata-kata yang simple tapi bisa mewakili perasaan banyak orang. 3-4 bulan, kalau lagu biasa biasanya cuman 20 menit,” ujar Enda di Kantor Trinity, Jl. Hayam Wuruk, Jakarta Pusat, Selasa (20/07/2010).

“Inspirasinya karena saya adalah seorang perantauan, jarang bertemu atau berkomunikasi langsung dengan ibu. Di sini saya pengen mengabadikan momen aja, kalau ibu adalah sosok yang tak tergantikan. Ibu selalu memikirkan kita dan selalu mendoakan kita, itu adalah satu peristiwa luhur yang kadang gak pernah kita pikirkan,” imbuhnya.

Begitu dalamnya perasaan pada sosok ibu, hingga pada saat take vocal Pasha tak kuasa meneteskan air mata. Pasha mengaku lagu tersebut sangat menyentuh hatinya.

“Saya menangis waktu take vocal lagu ini, buat saya lagu ini mewakili seluruh perasaan manusia, naluri sebagai seorang anak di dunia kepada ibunya. Baru kali ini secara pribadi saya menangis saat take vocal, lagu ini menyentuh banget. Namun saya hampir tidak menemukan kesulitan, karena jiwa saya udah seperti menyatu dengan lagu ini,” tutur Pasha, sang vokalis.

Dan soal aransemen musiknya, menurut Makki, Ungu menitikberatkan pada lirik dan alur cerita dalam lagu. Sehingga musiknya dibuat sesederhana mungkin, agar tak mengganggu ‘mood’ dari lagu tersebut.

“Kita di sini ingin mengangkat cerita, lirik, makanya musiknya sangat sederhana dan minimalis. Kita gak ingin orang terecoki oleh musiknya. Makanya ada unsure mellow, dengan cello dan string section, supaya mood lagu syahdunya dapet,” ujar Makki. (*/kpl/omg)

KOMENTAR