Kitab suci al-Quran sebagai mukjizat abadi Rasulullah Saw, mengandung nilai-nilai pendidikan yang luhur untuk memperbaiki kualitas kehidupan manusia. Kitab petunjuk ini mencakup dimensi kehidupan material dan spiritual manusia.

Al-Quran mempersembahkan puncak pengetahuan dalam bidang antropologi, sosiologi, sejarah bangsa-bangsa, dan seluruh disiplin ilmu pengetahuan. Setiap individu akan memperoleh manfaat sebatas pemahaman dan kapasitasnya dari sumber yang tak terbatas ini. Kitab suci ini juga tidak ada tandingannya dari segi sastra, keindahan, dan bentuk penggunaan kata, kalimat, dan susunan jumlah. Meskipun al-Quran diturunkan selama 23 tahun, namun keselarasan dan keterikatan makna antara kalimat dan ayat-ayatnya tetap terjaga.

Salah satu ibadah yang sering disinggung oleh ayat-ayat al-Quran adalah masalah shalat. Ibadah ini bahkan telah ada sejak masa diturunkannya al-Quran dan mengarah pada bentuk tertentu dari kegiatan ritual. Sebagian kaum musyrik Arab melaksanakan ritual tertentu di depan kabah yang disebut shalat. Namun, shalat mereka tentu saja sangat jauh berbeda dengan shalat dalam ajaran Islam dari segi pengertian dan tata cara pelaksanaannya. Pada dasarnya, Arab Jahiliyah pada masa permulaan Islam mengenal shalat sebagai sebuah ritual spesifik. Oleh karena itu, mereka tidak heran ketika mendengar ayat-ayat al-Quran yang menyerukan shalat, hanya bentuk dan tata caranya saja yang terbilang baru dan asing bagi mereka.

Afif Kindi mengatakan;”Aku adalah seorang pedagang yang berangkat ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji, dan aku pergi menemui sahabat lamaku, Abbas ibn Abdul Mutthalib untuk membeli barang dagangan darinya. Suatu hari aku bersama Abbas duduk di Masjidil Haram, tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki menuju Kabah untuk mendirikan shalat, kemudian aku menyaksikan seorang remaja datang berdiri di sampingnya. Setelah kedua orang tadi, aku juga melihat seorang perempuan datang dan berdiri di belakang mereka. Kemudian aku menyaksikan laki-laki tadi melakukan ruku yang diikuti oleh kedua orang di belakangnya. Lalu ia melakukan sujud yang juga diikuti oleh mereka berdua. Kemudian aku bertanya kepada Abbas; agama apakah itu? Abbas menjawab; itu adalah agama Muhammad ibn Abdullah, keponakanku dan ia meyakini telah ditunjuk oleh Tuhan sebagai utusan-Nya. Sementara remaja itu adalah Ali ibn Abi Thalib, keponakanku juga dan perempuan di belakangnya adalah istri Muhammad.”

Kata shalat dalam al-Quran memiliki sisi keagungan, kesakralan, dan kedalaman khusus. Kata ini dengan berbagai bentuknya punya hubungan makna dengan kebanyakan kata-kata lain dalam al-Quran, seperti kata-kata doa, zikir, dan tasbih.

Doa

Doa secara etimologi berarti memohon dan meminta kebutuhan. Salah satu arti kata shalat dalam bahasa Arab adalah doa, karena shalat sendiri mengandung unsur memohon dan menyeru Sang Pencipta. Sebagaimana dalam berbagai ayat al-Quran, doa digolongkan sebagai sebuah bentuk ibadah. Imam Jakfar Shadiq as dengan mengutip surat al-Ghafir ayat 60 – “Dan Tuhanmu berfirman, berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan” – menyebut doa sebagai sebuah bentuk ibadah. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa shalat adalah sebuah gerakan menuju Tuhan dan menanjak menghadap Allah Swt, sementara doa adalah sebuah gerakan dua arah, Tuhan berjanji akan mengabulkan doa para pemohon ketika mereka menyeru-Nya. Oleh karena itu, siapa saja yang menyeru dengan penuh keikhlasan, maka Tuhan pasti akan mengabulkan permintaannya.

Tujuan mendirikan shalat adalah untuk mengingat Allah Swt, sementara mengingat itu sendiri adalah ruh dan hakikat shalat. Zikir berarti mengingat sesuatu dalam pikiran, hati atau lisan setelah kealpaan dan kelalaian. Kata zikir dalam al-Quran digunakan lebih dari 70 kali untuk berbagai tema dan dalam arti yang berbeda pula. Salah satu keuntungan mewajibkan shalat lima waktu adalah untuk mengingatkan manusia dari kelalaian dan kesibukan dalam menghadapi berbagai problema kehidupan dunia. Allah Swt dalam sebuah hadis Qudsi berfirman: “Wahai anak Adam! Ingatlah Aku dalam hatimu, sehingga Aku selalu mengingatmu. Ingatlah Aku dalam kesendirianmu, sehingga Aku pun mengingatmu. Ingatlah Aku ketika berkumpul dengan orang lain, sehingga Aku mengingatmu lebih baik daripada kamu mengingat-Ku.”

Tasbih

Tasbih juga termasuk kata yang memiliki hubungan makna dengan kata shalat. Tasbih berasal dari kata sabaha, yang artinya menjauh. Bertasbih dalam pengertian syariat artinya menjauhkan Allah Swt dari segala sifat kekurangan dan keburukan. Sekelompok sahabat menafsirkan beberapa ayat tasbih dengan shalat. Sebagai contoh, seseorang bertanya kepada Ibnu Abbas, apakah engkau menemukan shalat lima waktu dalam al-Quran? Ibnu Abbas menjawab: “Iya aku menemukannya.” Lalu ia membaca ayat 17 dan 18 surat ar-Ruum “Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh. Dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur.”

Setelah membacakan ayat tersebut, Ibnu Abbas menjelaskan, “Bertasbih di permulaan malam mengisyaratkan pada shalat magrib dan isya, bertasbih pada subuh hari menyinggung shalat subuh dan bertasbih di waktu petang, mengisyaratkan pada shalat asar, serta bertasbih pada waktu zuhur, menjelaskan kewajiban shalat zuhur.” Pakar bahasa dari Mesir, Ibnu Manzur meyakini bahwa shalat disebut tasbih karena di dalamnya ada pengagungan dan penyucian Tuhan dari segala keburukan.

Masjid

Masjid adalah kata lain yang memiliki hubungan makna dengan shalat. Masjid dalam al-Quran adalah tempat untuk berzikir kepada Tuhan dan bersujud di hadapan-Nya. Objek-objek untuk bersujud yang bersentuhan dengan tanah juga disebut masjid.

Imam Ali Zainal Abidin as berkata: “Maksud dari tempat sujud (masjid) tujuh anggota badan adalah sujud di dalam shalat.” Ketujuh anggota itu adalah dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua ibu jari. Dalam beberapa ayat, kata masjid mengisyaratkan shalat itu sendiri. Seperti dalam surat al-Araf ayat 31, Allah Swt berfirman: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. . . ” Ayat ini memerintahkan untuk mempercantik penampilan ketika menunaikan shalat. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Imam Hasan as senantiasa memakai pakaian yang paling indah ketika ingin melaksanakan shalat dan berkata: “Tuhan adalah Maha Indah dan Dia mencintai keindahan. Aku menghias diri untuk Tuhanku.”

Shalat

Menurut syariat Islam, shalat memiliki rukun-rukun yang jika ditinggalkan salah satunya, maka batal shalat yang dilakukan seperti, ruku’ dan sujud. Dalam beberapa ayat al-Quran, ruku’ dan sujud digunakan untuk mengisyaratkan shalat. Ruku’ berarti membungkukkan badan yang dibarengi dengan semangat penghambaan dan ketertundukan. Dalam kamus agama, ruku’ termasuk salah satu rukun shalat. Allah Swt dalam surat al-Fath ayat 29 berfirman: “…kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya.” Atau dalam surat Ali Imran ayat 43, Allah berfirman: “Wahai Maryam, taatlah kamu kepada Tuhanmu, bersujudlah, dan rukulah bersama orang-orang yang ruku’.” Pada dasarnya, perintah untuk ruku’ dalam ayat tersebut adalah perintah untuk melaksanakan ibadah seperti shalat.

Dalam beberapa ayat al-Quran, sujud sama halnya seperti ruku’ juga disebut sebagai shalat itu sendiri, seperti dalam surat Qaaf ayat 40, Allah Swt berfirman: “Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang.” Dengan merujuk pada ayat-ayat al-Quran tentang ruku’ dan sujud, kita bisa memahami betapa pentingnya mengulangi kedua perbuatan ini dalam shalat. Ruh shalat terletak pada ketundukan dan kekusyukan seorang hamba di hadapan Tuhannya.

Shalat adalah sarana menuju kesempurnaan dan kebahagiaan manusia. Perintah Tuhan untuk mendirikan shalat adalah bentuk kasih sayang dan rahmat-Nya untuk mencapai kesempurnaan insani. (IRIB Indonesia)

KOMENTAR