Jakarta — Terdapat kesenjangan mengkhawatirkan antara sumberdaya manusia atau SDM yang sebenarnya dibutuhkan oleh industri pekerjaan di Indonesia. Dan hal ini tentu akan menghambat perkembangan ekonomi Indonesia ke depan, demikian laporan Konsultan Manajemen ‘McKinsey’.

“Berdasarkan laporan tersebut, permintaan terhadap tenaga kerja terampil dan tenaga kerja terdidik akan meningkat dari 55 juta menjadi 113 juta pada 2030, atau setara dengan kenaikan hampir 60 juta tenaga kerja. Hal ini mengharuskan sektor pendidikan kita untuk dapat mencetak lulusan yang mampu memenuhi standar permintaan industri pekerjaan baik nasional maupun internasional,” tutur praktisi pendidikan, Bambang Irianto di Jakarta, Sabtu.

Journalist Class besutan ‘Sampoerna Academy’ itu mengemukakan hal ini dalam keterangan tertulis kepada Okezone, Sabtu (1/12).

Karena itu, menurutnya, sangat penting untuk mengurangi kesenjangan di sektor pendidikan yang semakin melebar karena akan berperan dalam menjamin pertumbuhan perekonomian Indonesia.

Bambang juga menilai, para mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan akademik tapi juga keterampilan penunjang yang dibutuhkan industri.

“Salah satu solusinya adalah dengan melakukan penerapan sistem pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan para siswa untuk menghadapi tantangan global di masa depan. Ini berarti, siswa tidak hanya dibekali dengan kemampuan akademis tetapi juga pengembangan kepemimpinan dan keterampilan hidup (life skills),” ujarnya.

Sementara itu, Education Unit Coordinator ‘Sampoerna Academy’, Reynold Hutabarat, mengungkapkan, kebutuhan mendesak akan pendidikan berkualitas mengharuskan para tenaga pendidik maupun lembaga pendidikan menjadi lebih kreatif dalam menyusun kurikulum sekolah.

“Inilah mengapa model pendidikan ‘Sampoerna Academy’ menawarkan pengalaman yang lebih dari sekedar pendidikan akademis (beyond the classroom) kepada siswa-siswi kami. Mereka juga dibekali dengan keterampilan pengembangan karakter untuk membentuk mereka menjadi calon-calon pemimpin masa depan berkaliber tinggi –kami menyebutnya sebagai pendekatan pendidikan holistik abad ke-21,” kata Reynold.

Disebutnya lagi, para lulusan yang memiliki kemampuan akademis sekaligus keterampilan pengembangan diri akan membantu menjawab tantangan dari segi SDM yang dialami Indonesia. Dengan demikian, nantinya dapat membantu Indonesia untuk mempertahankan kekuatan perekonomiannya.

“Kami mendorong para siswa untuk turut berpartisipasi tidak hanya pada kegiatan di dalam kelas, namun juga melakukan kontribusi di lingkungan masyarakat sekitarnya. Di saat yang sama mereka akan berada dalam lingkungan multi-budaya guna mempersiapkan mereka dalam menghadapi berbagai tantangan global yang menanti saat mereka lulus di kemudian hari,” demikian Reynold Hutabarat.[]

KOMENTAR