Pang Hab Keumire dengan peudeueng on jok/pedang daun aren di tangan kanan beliau.
Pang Hab Keumire dengan peudeueng on jok/pedang daun aren di tangan kanan beliau.

[quote]Oleh A. Hasjmy[/quote]

[dropcap]P[/dropcap]erang Sabil yang pecah di Tanah Aceh akibat penyerangan Kerajaan Belanda terhadap Kerajaan Aceh Darussalam pada tanggal 26 Maret 1873, telah melahirkan ribuan pahlawan bangsa, baik pria maupun wanita, seperti Teungku Chik Muhammad Saman Tiro, Teuku Umar Johan Pahlawan, Teuku Panglima Polem Banta Muda, Teuku Nyak Makam, Teuku Imeum Luengbata, Teungku Fakinah, Teungku Fatimah, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Pocut Baren, Pocut Meurah Intan.

Salah seorang dari ribuan Pahlawan Perang Sabil yang masih hidup sampai zaman Indonsia Merdeka dan mendapat Piagam Tanda Kehormatan dan Bintang Jasa dari Presiden Republik Indonesia, Soekarno, adalah Panglima Abdul Wahab atau yang lebih terkenal dengan panggilan Pang Hab.

Pang Hab Pahlawan Tiga Zaman

Pahlawan tiga zaman yang kita tampilkan ini lahir tahun 1862 di Kampung Keumire, Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar. Ayahnya bernama Pang Ibrahim dikenal dengan sebutan Pang Him, salah seorang pahlawan Perang Aceh yang turut berjihad dengan Teungku Chik Muhammad Saman Tiro yang syahid dalam peperangan.

Abang kandungnya, Abdurrahman, syahid dalam Perang Sabil yang dipimpin Teungku Chik Di Tiro (Teungu Chik Muhammad Saman Tiro). Saudara sepupunya (anak adik ayahnya), Muhammad Hasan, mati syahid dalam perjuangan mempertahankan Titi Keumire, Februari 1942.

Pertempuran Keumire adalah bagian pemberontakan rakyat Aceh terhadap kolonialisme Belanda menjelang kedatangan bala tentara Jepang. Pemberontakan rakyat Aceh mulai meletus di Seulimuem, Aceh Besar, di bawah pimpinan Teungku Abdul Wahab, A. Hasjmy, Teungku Hasballah Indrapuri dan Ahmad Abdullah.

Karena ayahnya syahid dalam Perang Sabil mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Aceh Darussalam, maka Abdul Wahab diambil menjadi “anak angkat” Panglima Polem Teuku Cut Banta, Panglima Sagoe/ Kaom XXII Mukim.

Setelah remaja, Abdul Wahab dilatih menjadi prajurit tentara dalam lingkungan Sagoe (Divisi) XXII Mukim dan berhasil menjadi seorang mujahid yang tangguh, hatta diangkat oleh Panglima Sri Muda Perkasa, Teungku Raja Kuala (putra dari Panglima Polem Sri Muda Perkasa Teuku Nyak Banta), Panglima Sagoe/Kaom XXII Mukim, menjadi salah seorang Ulee Balang (Komandan Batalion dari Sagou/Divisinya).

Sama halnya dengan Pang Abbas, Pang Wahab tidak berhasil mencapai cita-citanya, yaitu menjadi syahid dalam medan perang. Beliau diberi kesempatan oleh Allah Swt hidup terus, sehingga sempat berjuang lagi untuk mengusir Belanda menjelang kedatangan Jepang.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, Pang Wahab menggabungkan diri dalam Barisan Mujahidin Divisi Teungku Chik Di Tiro, yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Daud Beureu’eh dan Cekmat Rahmany. Bersama pasukan Mujahidin Divisi Teungku Chik Di Tiro, Pang Hab ikut berperang di Medan Area.

Karena jasa-jasanya kepada negara sebagai pahlawan tiga zaman, pada tanggal 17 Agustus 1961, Presiden Republik Indonesia, Soekarno, menganugerahkan piagam tanda kehormatan Setya Lencana Perintis Pergerakan Kemerdekaan kepada Pang Wahab.

Atas nama Presiden Republik Indonesia, pada Tanggal 17 Agustus1961, Gubernur/Kepala Daerah istimewa Aceh, A.Hasjmy, menyerahkan Piagam Tanda Kehormatan dan menyematkan Bintang Tanda Jasa pada dada pahlawan tiga zaman, Pang Wahab Keumire.

Untuk melengkapi sejarah singkat Pang Wahab, ada baiknya saya jelaskan bahwa Pang Hab pernah menikah 6 kali selama hidupnya, tetapi bukan dalam satu masa dirangkai 6 istri. Beliau yang dikaruniakan Allah berusia panjang, senantiasa didahului pergi oleh istrinya, hatta kemudian Pang Hab terpaksa kawin lagi.

Istri pertama bernama Pandan meninggal dalam tahun 1902 dalam usia 35 tahun dengan meninggalkan seorang anak. Istri kedua bernama Siti Hawa, meninggal pada tahun 1919 dalam usia 45 tahun dengan meninggalkan 3 orang anak. Istri ketiga bernama Kaoy, meninggal dalam tahun 1929 dalam usia 50 tahun meninggalkan anak 2 orang. Istri keempat bernama Aisyah, meninggal pada tahun 1932 dalam usia 50 tahun,tanpa meninggalkan anak. Istri kelima bernama Nyak Maneh, meninggal dalam usia 70 tahun, dengan meninggalkan 4 orang anak dan hidup terus setelah meninggal suaminya Pang Hab, hatta istri kelima inilah yang menerima pensiun janda. Istri keenam bernama Aisyah (sama nama dengan istri keempat), meninggal dalam tahun 1960 dalam usia 50 tahun, dengan meninggalkan seorang anak.

Lima orang istrinya mewariskan 11 orang anak, sementara istri keempat tidak mewariskan keturunan.

Dalam usia 101 tahun, Pang Wahab meninggal dunia dalam tahun 1963 dan dimakamkan di kampungnya di bawah bayang-bayang pepohonan yang rimbun menyejukkan.

Para Pang Panglima Polem

Organisasi laskar Kerajaan Aceh Darussalam, antara lain sebagai berikut :

  1. Kesatuan paling kecil bernama Sabat (Peleton); komandannya bergelar Ulee Sabat;
  2. Kesatuan di atas Sabat bernama Kawan(Kompi); komandannya bergelar Ulee Kawan;
  3. Kesatuan di atas Kawan bernama Balang(Batalion); komandannya bernama Ulee Balang;
  4. Kesatuan di atas Balang bernama Sukee(Resimen); komandannya bergelar Ulee Sukee;
  5. Kesatuan di atas Sukee bernama Sagoe(Divisi); komandannya bergelar panglima Sagoe;
  6. Ulee Balang dan Ulee Sukee, disebut hari-hari Pang, singkatan dari Panglima;

Waktu kerajaan Belanda mengumumkan perang terhadap Kerajaan Aceh Darussalam, Di Aceh Rayek (Aceh Besar) terdapat tiga buah kaom/sagoe (Divisi), yaitu Sagou XXVI; Sagou XXV Mukim dan Sagou XXII Mukim; disamping sebuah Sukee Ureung Inong (Resimen Khusus Wanita), yang komandannya seorang wanita yang suaminya telah syahid dalam pertempuran awal di Pante Cermen; namanya Teungku Fakinah.

Pang Hab yang kita bicarakan dalam karangan ini, adalah salah seorang dari para Ulee Balang (Komandan Batalion) divisi XX II mukim: yang panglima sagoenya bergelar Panglima Polem Sri Muda Perkasa.

Pang Hab (Pang Wahab) bukan satu-satunya Ulee Balang dalam lingkungan sagoe/ kawom yang dipimpin Panglima Polem Muda Perkasa. Sagoe XXII Mukim juga memiliki para Ulee Balang lainnya yang terkenal, antaranya:

  1. Pang Raden (terkenal dengan Pang Den), yang meninggal pada tahun 20-an.
  2. Pang Husin (terkenal dengan Pang Usen), Komandan Batalion yang di tugaskan mempertahankan Kuta Cot Gle; syahid dalam tahun 1880-han bersama seluruh prajuritnya. Hatta Kuta Cot Gle jatuh kepada musuh (Pang Husin kebetulan ayah dari Ibu penulis karangan ini).
  3. Pang Abbas (terkenal dengan Pang Abah), beliau terus bertempur dari satu medan ke medan yang lain; tidak tercapai cita-citanya untuk syahid di medan perang. Tetapi di seluruh tubuhnya bertengger bekas-bekas luka warisan perang, jari-jari kirinya putus sama sekali kecuali ibu jari akibat sebuah pertempuran jarak dekat. Beliau wafat tahun 1936 dalam usia 127 tahun, fisiknya masih kuat, matanya masih terang, telinganya masih berfungsi dan giginya masih kuat untuk memamah pinang waktu makan sirih (almarhum kebutulan ayah dari ayah/ ayah chik) penulis karangan ini.

Tulisan serupa dengan judul “Pang Wahab Panglima Perang Sabil” yang ditulis oleh A. Hasjmy juga pernah dimuat di Harian Waspada, Medan, Kamis, 19 Maret 1992. Dikutip dari tambeh.wordpress.com

KOMENTAR