Banda Aceh – Penerapan program Rehabilitasi dan Rekonstruksi Masyarakat dan Permukiman Berbasis Komunitas (Rekompak) di Aceh akan dijadikan contoh pembangunan rumah di daerah bencana alam di Indonesia.

“Program Rekompak ini akan dijadikan contoh didaerah lain untuk membangun rumah warga yang rusak akibat bencana alam seperti Yogya dan Padang,” kata DR Suprayoga Hadi, Direktur Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal, Bappenas, Kamis (6/5/2010) usai penutupan proyek Rekompak di Aceh.

Ia mengatakan, pendekatan pembangunan permukiman Berbasis Komunitas atau Community Driven Development (CDD) yang diterapkan proyek ini terbukti efektif  karena berhasil meningkatkan  tingkat hunian rumah hingga 98 persen dan kepuasan proyek hingga 82 persen.

“Angka ini jauh melampaui tingkat hunian dari program bantuan perumahan lainnya di Aceh,” katanya.

Sebagai negara rawan bencana alam, katanya, Indonesia harus memiliki pendekatan yang efektif dalam mengatasi bencana dan program Rekompak telah memberikan pembelajaran yang cukup berharga bagi Indonesia.

”Dari proyek Rekompak kita dapat melihat bagaimana pembangunan yang berbasis komunitas dan kemitraan antar pihak dapat secara efektif menunjang proses rehabilitasi dan rekonstruksi paska bencana. Ke depan pendekatan ini akan diadaptasi dan disempurnakan guna menunjang proyek-proyek rehabilitasi dan rekonstuksi paska bencana lainnya di Indonesia maupun di belahan lain di dunia,” katanya.

Sementara itu, Joachim Von Amsberg, Direktur Bank Dunia untuk Indonesia selaku Wali Amanat MDF mengatakan, pendekatan CDD telah memberikan hak kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam setiap tahapan proses kegiatan program.

“Masyarakat menjadi memiliki rasa kepemilikan yang tinggi dan terstimulasi untuk mengerahkan sumberdayanya sendiri seperti tenaga kerja dan lahan,” ungkap Joachim.

Katanya, sejak diluncurkan pada November 2005, proyek ini telah berhasil membangun dan merehabilitasi hampir 15.000 unit rumah di 130 desa di bawah Dana Bantuan Rumah (BDR) dan membangun berbagai infrastruktur penunjang di 180 desa dibawah Bantuan Dana Lingkungan (BDL).

Selain itu, Rekompak juga telah memperkuat kapasitas masyarakat melalui berbagai pelatihan serta merangsang ekonomi lokal melalui penciptaan lapangan kerja.

Pendanaan program Rekompak bersumber dari dana hibah MDF sebesar US$85 juta dan dana APBN sebesar Rp25,6 miliar. “Keberhasilan diraih proyek ini tidak lepas dari kemitraan yang strategis antar berbagai pihak yang terkait. Mulai dari Pemerintah Aceh, BRR yang kemudian diteruskan Bappenas, Kementerian Pekerjaan Umum, negara dan lembaga donor yang tergabung di bawah MDF, Bank Dunia selaku lembaga mitra proyek ini, hingga masyarakat penerima manfaat,” ujarnya.

Dipihak lain Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengatakan, apa dilakukan MDF pada program itu dapat diadopsi ke bidang lain seperti pertanian. “Program semacam inilah yang dapat memaksimalkan kemampuan berbagai pihak untuk memberikan manfaat rekonstruksi yang sebesar-besarnya pada komunitas yang terkena dampak bencana dan ini perlu ditiru,” katanya.(*/ha/cqi)

KOMENTAR