Sigli – Pabrik pengolahan rotan setengah jadi terbesar di Aceh yang pembangunannya menelan dana Rp3 miliar lebih, hingga kini belum bisa beroperasi. Diduga karena terbentur dana operasional.

Pabrik rotan milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pidie, di Bambi, Peukan Baro, hingga kini masih belum bisa launching karena tidak memiliki dana operasional. Untuk bisa dimulai produksi, pabrik yang telah menghabiskan dana Rp3 miliar lebih, butuh dana Rp250 juta lagi.

Menurut keterangan Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Perindagkop) Pidie, Said Mulyadi, untuk dapat mengeperasikan pabrik pengolahan rotan setengah jadi, pihaknya membutuhkan anggaran sebesar Rp250 juta hingga Rp300 juta.

“Kita hanya butuh dana untuk operasional saja, kalau untuk fasilitas dan tenaga sudah ditanggung sama pusat, karena pusat tidak dapat membantu biaya operasional,” ujar Kadis di ruang kerjanya, kemarin. Dana itu, kata dia, untuk pengadaan bahan baku dan pengolahan.

Memang, lanjut dia, anggaran tersebut sudah pernah diajukan dalam APBK Pidie tahun ini, namun karena keterbatasan anggaran, kebutuhan untuk dana itu tidak terealisasi. “Andai dana itu ada, saya yakin hasil pengolahan rotan akan meningkat, juga mampu menampung tenaga kerja ratusan orang,” kata Said.

Tetapi, dia sudah melakukan pendekatan ke Pemerintahan Aceh agar dapat membatu dana untuk operasional yang direncanakan launching April atau Mei tahun ini. Dari provinsi, lanjut dia, ada sinyal akan dibantu, walau tidak sepenuhnya.

Said mengakui, rotan setengah jadi dari Pidie, sangat mudah dipasarkan di Indonesia, bahkan Kabupaten Cirebon merupakan pamasok rotan terbesar, siap menampung barang baku dari Aceh. “Saya sudah bicara dengan para pengusaha rotan di Cirebon, mereka siap tampung berapa pun jumlahnya,” lanjutnya.

Latih 25 Tenaga Teknik

Untuk mempersiapkan tenaga ahli siap pakai di pabrik Industri rotan itu, Said mengaku sudah melobi Dirjen Industri Agro Kimia. Pihak Dirjen kembali membantu melatih tenaga teknik sebanyak 25 orang. Semua biaya pelatihan ditanggung pusat. “Pelatihan tenaga ahli yang kita rekrut dari para pengrajin rotan ini, digelar April nanti,” terangnya yang mengaku, meski malu, dia tetap akan melakukan lobi.

Dia juga berjanji, meski tidak ada anggaran operasional, tetap akan berupaya pabrik itu harus launching dalam waktu dekat. “Apapun dan bagaimana pun caranya, saya tetap bertekad, pabrik itu dibuka meski harus menggunakan uang sendiri,” kata Said Mulyadi.(ari)

(Harian Aceh)

KOMENTAR