coffee arabica gayo

Banda Aceh – Sebagai daerah penghasil kopi terbesar di Indonesia, Aceh mampu memproduksi kopi jenis arabika sebanyak 6.000 ton per tahun. Kopi tersebut berasal dari dua kabupaten di dataran tinggi Gayo, yakni Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Project Manager International Organization for Migration (IOM), Konrad Clos mengatakan, sebagai daerah penghasil kopi arabika terbesar di Indonesia, setiap tahun nilai produksi kopi Aceh ini mencapai 300 juta hingga 500 juta dolar AS. “Ini merupakan jumlah yang luar biasa,” ungkap Clos kepada sejumlah wartawan di Banda Aceh, Jumat (18/5).

Dikatakan, IOM selama ini aktif membina para petani kopi di dua daerah dataran tinggi Gayo tersebut, kiranya ke depan mereka juga perlu terus mendapat perhatian dari semua pihak mengingat kopi Gayo sudah dikenal oleh masyarakat dunia.

“Tidak hanya nasional, tetapi dunia sudah mengetahui tentang kopi Gayo,” ungkap Clos sembari menambahkan, selama ini kopi yang dihasilkan petani Gayo terlebih dahulu dikirim ke Amerika dan baru kemudian dikirim ulang ke wilayah Indonesia untuk diproduksi.

Seharusnya ini tidak perlu terjadi jika daerah ini mampu memproduksi sendiri. Masyarakat Aceh harus bangga kepada kopi produksi oleh petani. Karenanya, masyarakat Aceh harus mendukung upaya yang dilakukan para produsen kopi seperti petani dan membelinya langsung dari mereka secara baik.

Melatih

IOM sendiri, lanjut Clos, melalui program Aceh-Economic Development Financing Facility (EDFF) juga melatih 1.000 petani kopi didataran Gayo mengenai pemahaman tentang Kopi. Sejauh ini sudah ada 1.000 petani kopi Gayo yang sudah dilatih dan menjalin kerjasama. Dalam kerjasamanya, mereka tidak menggunakan fasilitator dari luar wilayah.

“Kami memberikan pelatihan kepada 1.000 petani, kemudian mereka mentransfer ilmu yang mereka dapatkan ke para petani lainnya yang ada di wilayah tersebut,” ujar Clos

Clos menambahkan, pelatihan yang dinamakan dengan sekolah lapang ini diadakan hanya untuk memberi materi tentang kopi. Selanjutnya para petani akan praktek langsung pada kebun kopi mereka. Kerjasama ini telah dilakukan IOM pada awal tahun 2011 dan akan berakhir Agustus 2012 mendatang.

Menurut Clos, mereka telah melakukan berbagai kegiatan yang diselenggarakan guna memberi pemahaman lebih kepada para petani kopi. Karena, kopi Gayo telah dikenal oleh nasional bahkan dunia sekali pun.

Diadakannya pemilihan miss kopi (putri kopi), diharapkan dapat meningkatkan profil kopi Aceh pada khususnya dan Indonesia umumnya. Sebagai contoh untuk memproduksi kopi yang berkualiatas baik sudah terwujud sekarang ini. (irn/analisa)

KOMENTAR