Banda Aceh, Seputar Aceh – Lama tidak menjejakkan kaki di tanah kelahiran membuat Hasan Tiro melewatkan banyak perubahan di Aceh, salah satunya kisah Masjid Raya Baiturrahman. Ketika kembali ke masjid itu, Senin (/111) siang, ia nyaris menitikkan air mata. Ia terharu, sekaligus takjub.

“Beliau terharu melihat perubahan masjid ini, apalagi setelah mengetahui masjid ini menjadi tempat perlindungan ketika tsunami terjadi,” kata Zaini Bakri, pengawal pribadi Hasan, usai mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman.

Di masjid itu, Hasan Tiro melihat kumpulan foto Masjid Raya Baiturrahman dari masa ke masa. Ia juga membaca beberapa literatur sejarah masjid, terutama tentang proses perubahan arsitekturnya.

“Wali tertarik membaca sejarah perubahan masjid ini, terutama perluasan masjid yang dilakukan di masa kepemimpinan Gubernur Ibrahim Hasan (tahun 1991),” kata Zaini.

Perubahan besar Masjid Raya Baiturrahman dimulai tahun 1935. Di masa itu, kompleks masjid ini diperluas di bagian kanan dan kirinya dengan tambahan dua kubah. Pada 1975, kembali diperluas dan ditambah dua kubah serta dua menara di utara dan selatan.

Menjelang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke-XII pada tahun 1981, Masjid Raya Baiturrahman diperindah dengan penambahan pintu krawang, lampu chandelier dan beragam ukiran kaligrafi dari tembaga.

Pada 1991, di masa kepemimpinan Gubernur Ibrahim Hasan, terjadi lagi perluasan halaman depan dan belakang dan penambahan dua kubah, satu menara utama dan dua minaret. [sa-ai]