Home Budaya Kenalkan Seni dan Budaya Lewat ‘Ngamen’ Kenapa Tidak?

Kenalkan Seni dan Budaya Lewat ‘Ngamen’ Kenapa Tidak?

Muda Balia

BEBERAPA waktu lalu disaat kegiatan Aceh Expo 2013 di Lapangan Blang Padang Banda Aceh, tepatnya di hari Kamis (6/6) ada sebuah keramaian disisi selatan atau pas di plataran parkiran Museum Tsunami Aceh.

Bukan kegaduhan yang kacau, hanya sesekali suara-suara lantang dalam bahasa Aceh terdengar pas dengan paduan kata-kata yang saling meuantok (berpadu) satu sama lain.

Disisi lain, mungkin disebagian jejaring sosial Twitter dan Facebook, pengunjung Aceh Expo pada suntuk dan bosan dengan ramainya pedagang, bahkan ada yang menganggap kegiatan yang dipegang oleh salah satu Event Organizer asal Batam tersebut lebih layak disebut pasar rakyat, tapi sayangnya alasan keluhan itu bukan disampaikan kepada panitia yang bersangkutan di tempat acara melainkan selalu pontang-panting adanya di social media.

Kembali pada kejadian di depan Museum Tsunami, ternyata disitu memang ada seniman tutur hikayat Aceh, Muda Balia yang melakukan atraksi ngamen, sebagian media menyebutnya sebagai bentuk protes Muda terhadap kegiatan Aceh Expo yang tidak memberikan kesempatan kepada seniman di Aceh untuk tampil di kegiatan tersebut.

Kita tahu Muda Belia sang penyair muda Aceh ini berhasil tercatat di MURI atas prestasinya pembacaan hikayat terlama, 26 jam nonstop dalam rangka mengenang dan memperingati 5 tahun peristiwa tsunami Aceh 26 Desember 2004 dengan tema kegiatan “Tsunami Aceh – Thanks to The World” yang berlangsung 26-27 Desember 2009 silam di komplek PLTD Kapal Apung.

Walaupun ada embel-embel protes, aksi Muda justru bernilai positif dan tamparan bagi seniman atau komunitas pegiatan seni di Aceh. Kenapa bisa? Ya, buktinya disaat seniman atau pun komunitas seni tidak tersentuh oleh pihak-pihak yang seharusnya bisa dilirik, justru mereka –seniman– bisa menyentuh masyarakat untuk sadar akan seni dan budaya yang selama ini bisa punah di Aceh tanpa ada apresiasi dari sedikit banyak kalangan anak muda untuk melestarikannya.

Kita masih ingat dengan komunitas punk yang ada di Aceh, yang kasusnya pun sempat mendunia. Justru banyak orang disini menutup mata tentang bagaimana cara mereka mempertahankan identitas dengan cara ngamen.

Hal itu pula juga bisa dilakukan oleh pegiat seni dan budaya di Aceh, Car Free Day yang sebelumnya rutin di Banda Aceh juga menjadi ajang yang pas untuk membantu kenalkan kesenian Aceh. Dulu kita sering melihat tarian Seudati massal di arena CFD dan kita juga berharap komunitas seperti ini bisa terus tumbuh.

Tidak hanya itu, salah satu Duta Wisata di Aceh juga telah menunjukkan kontribusinya untuk terus mengenalkan seni tutur Aceh, terbilang muda dan percaya diri justru menjadi nilai tambah bahwa setiap mereka telah mempunyai tugas mulia dalam melestarikan kesenian di Aceh.

Beberapa waktu lalu saya juga ingat dengan semangat tim Tari Rampoe-Rapai UGM, yang dengan penuh niat mulia tampil di jalanan dengan memperlihatkan seni budaya mereka lewat kegiatan ‘street performance’, malah ketika itu mereka butuh dana untuk bisa tampil di Festival Oostrozebeke Wereldfolkloreade 2013 yang berlangsung di Sportcentrum De Mandelmeersen, Brusel.

Kini kita tinggal melihat aksi para seniman dan komunitas seni di Aceh, apa yang mampu ditampilkan untuk menyentuh hati masyarakat. Bukan menyentuh hati pejabat atau pemerintah, saya ingat dengan tulisan dispanduk Muda Belia waktu itu yang bertuliskan “penghikayat Aceh boleh mati, tapi seni hikayat wajib hidup”. Ini tidak saja berarti bagi kesenian dan budaya hikayat saja, melainkan pesan yang luas untuk kesenian lainnya di Aceh yang begitu luar biasa banyaknya.

Dan khususnya untuk masyarakat serta muda-mudi Aceh saat ini bukanlah kurang akan hiburan, melainkan kurangnya nilai apresiasi bagi para seniman juga terlihat sangat di muka umum. Betapa banyak jika ada band-band papan atas manggung di atas pentas yang megah, teriakan histeris dan tepuk tangan meriah jadi gemuruh, tapi dilain sisi ketika kesenian lokal misalnya hikayat seni tutur dipentaskan di tempat-tempat umum keramaian, satu tepukan tangan jadi lemah dan lesu.

Seni dan budaya itu cerminan daerah, jika ngamen bisa jadi nilai-nilai bagian untuk mengangkat identitas itu semua kenapa tidak. Semua ini adalah bagian untuk kita masyarakat di Aceh saling mengaca lagi, menghargai semangat para seniman dan komunitas seni untuk bisa terus unjuk gigi. Karena mereka menjadi bagian dari pewaris seni dan budaya Aceh terdahulu bagi kita-kita generasi muda-mudi Aceh pada masa ini.[]

KOMENTAR

Exit mobile version