Jenewa, Seputar Aceh, Antara – Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menyatakan perubahan iklim telah memaksa orang untuk bermigrasi, dan kebanyakan perpindahan penduduk terjadi di dalam negara sendiri atau ke negara lain.

Meski tidak menyebut perkiraan jumlah orang yang pindah akibat perubahan iklim, laporan tersebut mengingatkan bahwa negara miskin akan memerlukan bantuan internasional untuk menolong mereka menanggulangi kecenderungan tersebut.

Studi tersebut mendapati bahwa sangat banyak gerakan manusia akibat perubahan iklim dan kemerosotan kondisi lingkungan hidup bukan hanya tak terelakkan, tapi juga sudah mulai terjadi.

“Namun, kebanyakan kejadian itu adalah migrasi dalam negeri atau lintas-perbatasan, sehingga menimbulkan kekhawatiran bahwa jutaan orang miskin akan pergi ke negara kaya akibat perubahan iklim,” demikian isi laporan “Migration, Environment and Climate Change: Assessing the Evidence“, yang dirilis IOM.

Di Ethiopia, Mali, Burkina Faso dan Senegal, telah terjadi pergerakan orang yang cukup umum akibat rongrongan kemarau. Laporan tersebut juga membidik wilayah Tambacounda, Senegal, tempat migrasi yang berhubungan dengan kemarau mulai terjadi saat penduduk setempat melakukan perpindahan di dalam negeri mereka, tapi belakangan pergi ke negara lain tetangga Senegal di Afrika.

Meskipun jumlah orang yang terpengaruh oleh bencana alam telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam beberapa tahun belakangan, tak ada peningkatan yang berhubungan dalam perpindahan jarak-jauh internasional dari wilayah yang terkena bencana selama masa ini, sebut laporan itu.

IOM memperkirakan bahwa 24 juta orang di seluruh dunia telah meninggalkan tempat tinggal mereka akibat faktor lingkungan hidup. [sa-ant]

KOMENTAR