Jakarta — Seleksi mandiri di perguruan tinggi negeri dipertahankan sejumlah perguruan tinggi. Di daerah, seperti kawasan Indonesia bagian timur, seleksi mandiri memberikan kesempatan kepada putra daerah agar bisa kuliah di PTN.

Sejumlah unsur pimpinan perguruan tinggi negeri (PTN), pekan lalu, mengatakan, seleksi mandiri jangan selalu dikaitkan upaya mencari dana dengan memungut biaya pendidikan yang tinggi dari mahasiswa. Seleksi mandiri justru dianggap ”penyelamat” lulusan SMA/SMK/MA, terutama dari daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) untuk mengakses PTN di daerahnya.

”Jika hanya seleksi nasional, anak-anak asli Papua, terutama dari daerah 3T, sulit masuk Uncen. Seleksi mandiri membuka peluang putra daerah,” kata Festus Simbiak, Rektor Universitas Cenderawasih (Uncen), Jayapura, Papua. Seleksi mandiri seperti seleksi siswa lokal berpotensi khusus bagi mahasiswa baru anak-anak asli Papua.

Daya tampung Uncen, sekitar 40 mahasiswa untuk tiap program studi, sangat terbatas. ”Masyarakat kecewa. Daya tampung terbatas, sementara untuk kuliah di PTN lain kalah bersaing secara nasional,” ujar Simbiak.

Menurut Frans Umbu Datta, Rektor Universitas Nusa Cendana, Kupang, Nusa Tenggara Timur, PTN di daerah sering kekurangan peminat dari seleksi nasional. Karena itu, daya tampung yang tak terpenuhi tersebut bisa diselamatkan dengan seleksi mandiri.

”Di UU Pendidikan Tinggi ada seleksi nasional dan bentuk lain untuk penerimaan mahasiswa baru. Untuk PTN di daerah, jadi bisa memaksimalkan daya tampung yang ada,” kata Frans.

Keberpihakan

Usman Rianse, Rektor Universitas Haluoleo (Unhalu), Kendari, Sulawesi Tenggara, mengatakan, perlu ada keberpihakan bagi calon mahasiswa dari daerah 3T. Di Unhalu, seleksi mandiri antara lain bagi 100 mahasiswa suku Bajo yang kuliah gratis.

Di Mataram, Nusa Tenggara Barat, menurut Sunardi, Rektor Universitas Mataram, lulusan SMA sederajat sebanyak 48.000 orang. Sementara daya tampung mahasiswa baru 5.000 orang per tahun. ”Seleksi mandiri itu untuk pertimbangan kepentingan lokal. Jangan sampai timbul kecemburuan putra daerah sulit kuliah di PTN,” katanya.

Sementara itu, Pembantu Rektor I Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Yedi Sumaryadi mengatakan, seleksi mandiri diutamakan menyaring putra daerah, seperti Banyumas. ”PTN di daerah, kan, harus bisa menjadi tempat kuliah bagi anak daerah. Kami merasa tetap perlu ada akses untuk masyarakat sekitar lewat jalur mandiri,” ujarnya. (kompas.com)

KOMENTAR