Tas Rajut Noken (detik.com)
Tas Rajut Noken (detik.com)

TAS rajutan atau anyaman multifungsi Noken kerajinan tangan rakyat Papua resmi masuk daftar warisan budaya takbenda UNESCO, Lembaga PBB untuk Bidang Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan, yang memerlukan perlindungan mendesak.

Ketua Sidang Komite Antar-Pemerintah ke-7 untuk Perlindungan Warisan Budaya takbenda Arley Gill dari Grenada mengetok palu menandai secara resmi momen penetapan yang disambut tepuk tangan dan sorak sorai 640 wakil dari 148 negara yang memadati Ruang XII di Markas UNESCO, kata Wakil Menteri Bidang Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Prof Wiendu Nuryanti di Jakarta, Rabu (5/12).

Ia mengatakan menyambut gembira inskripksi Noken pada daftar UNESCO yang bergengsi itu. “Pengakuan UNESCO ini akan mendorong upaya melindungi dan mengembangkan warisan budaya Noken, yang dimiliki oleh lebih dari 250 suku bangsa di Provinsi Papua dan Papua Barat,” kata kata guru besar UGM itu.

Menurut dia, Inskripsi UNESCO itu bukan tujuan akhir, melainkan awal upaya bangsa Indonesia untuk bersama-sama menggali, melindungi dan mengembangkan warisan budaya Noken itu.

Pada kesempatan yang sama Titus Pekei, Putra Papua, Ketua Lembaga Ekologi Papua dan pencetus gagasan menominasi Noken Ke UNESCO turut pula mendampingi Wamendikbud mewakili masyarakat Papua yang telah memberi masukan dan mendukung nominasi Noken ke UNESCO.

Titus bergembira dengan berhasilnya perjuangan Noken yang telah dimulai dengan penelitian lapangan oleh tim Puslitbangbud sejak awal 2011.

Ahli hukum dan lingkungan hidup lulusan UI itu menyatakan bangga dengan pengakuan UNESCO terhadap Noken.

“Mama-mama Papua pengrajin Noken pasti bahagia pada hari ini,” ungkap Titus.

Sementara itu, Duta Besar RI untuk UNESCO, Carmadi Machbub, menjelaskan, inskripsi Noken menambah satu lagi warisan budaya takbenda Indonesia yang telah ditetapkan UNESCO, menyusul Wayang, Keris, Batik, Diklat Warisan Budaya Batik untuk Siswa Sekolah, Angklung dan Saman.

“Kami berharap pengajuan nominasi warisan budaya Indonesia ke UNESCO dapat terus dilakukan, karena akan menambah prestasi bangsa dan Negara, sekaligus memperkuat perlindungan warisan budaya di dalam negeri untuk generasi penerus,” katanya. (ant)