Ilustrasi Meracik Kopi (antaranews.com)
Ilustrasi Meracik Kopi (antaranews.com)

KESUKAANNYA terhadap kopi bermula kala dia duduk di bangku SMP. Lantaran di Aceh, tempat asalnya, minuman kopi menjadi khas orang sana. Tak mengenal usia, semua mengonsumsi kopi. Pria kelahiran Lhokseumawe, Provinsi Aceh, 32 tahun silam ini, perjalanan kariernya berliku hingga sekarang menjadi barista (peracik minuman kopi) sekaligus konsultan coffee shop.

Pada 2004, dia adalah tukang cuci gelas. Tak berlangsung lama, lantas dirinya diangkat jadi bar boy, kemudian bartender, di salah satu klub malam di Jogjakarta. “Mungkin lantaran jiwa muda saya masih tinggi. Pokoknya jadi bartender itu keren. Posisi operasional di klub malam, bartender itu posisinya top level,” terang dia yang memiliki hobi renang.

Dalam perjalanannya, setahun pertama masih menikmati. Namun, memasuki tahun kedua, dirinya mengaku mulai sakit-sakitan hingga menjalani perawatan medis di rumah sakit. Muncul di benaknya, pekerjaan ini sepertinya tak sesuai lagi. Dia merasa sudah tak muda. Alhasil, Rahmad memutuskan mengundurkan diri sebagai bartender.

Sesaat keluar dari rumah sakit, di depannya ada sebuah pusat perbelanjaan yang di dalamnya ada coffee shop. Sembari menunggu jemputan, dia nongkrong di sana. Rahmad lihat buku menunya, semua berbau kopi. “Saya lihat semua minuman bercampur kopi. Saya makin penasaran, kenapa mengandung kopi. Akhirnya saya pesan satu jenis kopi, tapi buku menu masih dipegang untuk dilihat menunya,” ujarnya.

Dua hari setelah keluar rumah sakit, dia mulai berpikir untuk melamar di coffee shop tersebut. Kemudian dia memasukkan lamaran, dan tak lama kemudian mendapat panggilan. Seminggu dia mengikuti pelatihan. Itu merupakan prasyarat menjadi karyawan kontrak. Seminggu dilewatinya dengan baik hingga lulus. “Selama tiga bulan, saya sudah menguasai semua minuman di situ. Saya hafal semua isinya tapi takaran belum tahu. Sebab, itu rahasia barista,” ujarnya.

Lantas dirinya ditempatkan di operasional bar dari tempatnya bekerja. Di situlah dia mengaku mengetahui takaran dan tinggal meracik kopi yang tersedia. Dia punya pemikiran untuk mendalami kopi. Akhirnya Rahmad mengundurkan diri walau manajer operasional sempat kecewa dengan keputusan yang dia ambil. “Saya putuskan ambil pendidikan dan pelatihan kopi di Bogor selama tiga bulan. Biaya yang saya keluarkan saat itu Rp 3,8 juta, mendapatkan fasilitas mes. Saya rogoh kocek dari tabungan saya selama bekerja sebelumnya,” tambahnya.

Banyak ilmu yang didapatkan, dari teori hingga praktik. Dari asal mula kopi, perawatan, dan cara membuat kopi yang benar. Setelah menyelesaikan, dia kembali ke Jogjakarta. Mengetahui dia habis menimba ilmu, seorang temannya membuat coffee shop dan mengajaknya menjadi konsultan selama setahun di tempat usahanya. Lantaran ramai pengunjung, dia lantas diminta menggarap bisnis serupa di Solo.

Dia mengatakan, menjadi seorang barista yang baik, harus paham dengan produk yang dijual. Intinya, barista tak perlu yang pintar atau ahli. Yang dibutuhkan yakni kemauan dan kemampuan menguasai produk menjadi satu minuman. Itu baru disebut barista. Tak sekadar membuat kopi lalu dijual. Mesti ada nilai lebih dari produk yang dijual. Bahkan, untuk mengetahui karakter kopi, sampai dikumur dalam mulut. Misal belum dapat rasanya, kumur kembali dengan air putih. Hingga dia tahu karakter rasanya. “Kopi banyak jenisnya, sebab itu perlu keterampilan khusus mengetahui karakternya,” ucapnya.

Rahmad cenderung tak menyukai seninya, tapi lebih bagaimana rasa kopi. Salah satu sebab, dia memilih jalur beverage adalah mayoritas penduduk Indonesia menyukai kopi dan sudah melekat di dirinya. Sebenarnya, kata dia, bartender dengan barista tak jauh berbeda dari segi penghasilan. Satu keinginannya yang belum tercapai yakni memiliki coffee shop sendiri.

“Rencana punya sendiri. Sudah saya targetkan sejak awal terjun menjadi barista,” kata pria yang kini bekerja di salah satu coffee shop di Samarinda. (kaltimpost.co.id)

KOMENTAR