Kepada siapa saja yang datang ke sana, Abi Suman pasti akan mengeluh, “Rasanya saya kurang diperhatikan.”

“Dulu berapa gaji Abi?” tanya Wartawan akhir Maret lalu dalam kunjungan keempat ke makam pemilik romantisme perjuangan melawan penjajah Belanda itu.

Jawab Abi, “Tujuh ratus ribu rupiah.” Benar, Rp700 ribu adalah suatu jumlah penggajian minimum bulanan yang paling tidak manusiawi untuk jenis pekerjaan apa pun dan di sebuah badan usaha swasta mana pun. Apalagi jumlah honorarium ini diberikan oleh instansi pemerintah. Sungguh ironis.

“Tapi mulai awal 2009 gaji saya sudah ditambah menjadi dua juta kurang sedikit,” lanjut Abi Suman.

Sejumlah itu pun sebenarnya masih tidak manusiawi untuk ukuran jumlah perolehan minimum masa ini. Apalagi yang menggaji itu adalah pihak pemerintah. Tapi Abi sudah terlanjur terikat dengan kewajiban moril untuk tetap eksis sebagai kadam Makam Pahlawan Nasional Teuku Umar. Masalahnya Teuku Umar itu bukan orang lain. Tapi indatunya sendiri.

Abi Suman, atau lelaki gempal kuning langsat bermata rada biru yang bernama asli Usman, 72 tahun, warga Gampong Mugo Rayeuk, Kecamatan Panton Lheue, Aceh Barat, berjarak 30-an kilometer dari tapal batas Kabupaten Pidie kawasan bukit Kubu Aneuk Manyak, adalah keturunan ketiga dari garis silsilah paman Teuku Umar. Sementara Teuku Umar sendiri tidak memiliki anak.

“Ya, barangkali jika Teuku Umar itu bukan indatu kami sendiri, mungkin saya sudah minta berhenti sebagai kadam di sini,” lanjut Abi seraya mengambil posisi duduk di pilar-pilar tembok sisi pembatas jalan setapak berkonstruksi semen, sekira 100 meter menuju ke makam Teuku Umar.

Jalan setapak dari semen cetak dan terkesan mewah ini sendiri merupakan pemandangan baru di lingkungan makam bersejarah itu. Menurut Abi, jalan semen ini dan balai-balai kayu di sampingnya serta beberapa bangunan tambahan seperti prasasti marmar hitam empat persegi panjang yang mengukir sejarah singkat kisah perjuangan Teuku Umar melawan penjajah Belanda, baru dibangun pada  tahun 2009 lalu.

“Di situ ada keterangannya,” kata Abi seraya mengarah telunjuk ke panflet keterangan pembangunan yang di situ tertera item-item sebagai berikut: Kegiatan DIPA 2009; (lambang Nagara Dana Ranca); PPK: Wilayah BSPR dan Aceh Barat; Nama Paket: Pemugaran Makam Teuku Umar Meulaboh; Nomor Kontrak: KU.08.08/680/PSPR-ABAR/RR.NAD/2009; Nilai Kontrak: Rp. 895.220.000; Pelaksana: CV. Rasindo Karya; Pengawas: CV. Mitra Konsultan; Masa Pelaksanaan; (tanpa keterangan). Dan dalam kolom petak bawah tertulis: Satker Rehap & Rekon Prov. NAD, Jalan Pemancar, No. 5 (Ex. Komplek Dinas Perkotaan dan Permukiman Prov. NAD) Telp.(0651) 42882, Fax (0651) 41130, Banda Aceh.

“Untuk ukuran sebuah makam pahlawan nasional sebuah negara sebesar Indonesia, nampaknya makam Teuku Umar dan bangunan-bangunan pendukung dalam komplek ini, sudah lumayan memadai, Abi. Ini dibandingkan dengan kunjungan saya akhir 2007 lalu,” komentar Wartawan di sepenggal sisa waktu sore itu menjelang berpisah.

Ya, makam itu memang sudah tampak mewah sekarang. Meski untuk menuju ke sana kita terkadang lebih suka menapaki tanah merah beralas kerikil dan menuruni tangga batu dengan kemiringan dua puluh derajat menuju ke kedalaman temaramnya bayang pohon-pohon untuk tiba di makam.

Dan setiap hendak menuju ke sana maka dengarlah, serangga hutan pasti menyambut dengan simphoninya yang bernada tunggal, lurus tanpa lekukan irama. Bagai mengabarkan tentang hari-hari yang berlalu di sini. Hari-hari yang bening tanpa riak. Sebuah nuansa senyap belantara azali.

Bisa dipahami, komplek makam Teuku Umar terletak dua kilometer dari jalan provinsi Meulaboh-Geumpang, Pidie. Demikian terasing dari kawasan keramaian dan perumahan penduduk.

Kata orang, itu adalah fenomena alienasi sunyi sebuah keagungan. Namun mari kita sepakat untuk mengatakan, bahwa itu adalah Makam Sang Pahlawan yang telah menghabiskan hari-hari kehidupannya dalam menegaskan suatu gambaran prinsip hidup sebangsa yang mewujudkan sebuah tekad yang wajib diwarisi, bahwa Aceh bukan tanah tempat sang siapapun seenak nafsu kolonialnya mengayunkan langkah-langkah yang menjajah.

Kata Abi Suman ketika menanggapi komentar pujian Wartawan terhadap kesan mewah yang mengerumuni komplek makam Teuku Umar sekarang, “Ya, makam ini memang sudah tampak mewah. Tapi nampaknya tidak diiringi dengan peningkatan perhatian terhadap kadamnya.”(*/k-ha)

KOMENTAR