Minyak selalu menjadi daya tarik. Apalagi ketika harga minyak mentah dunia naik. Kali ini PT Medco dan Fasific Oil yang kepincut pada minyak di bagian timur Aceh, yakni di bekas sumur tua peninggalan Asamera Oil. Areal yang dikenal dengan blok A itu terbentang mulai dari perbatasan Aceh Timur dengan Kota Langsa dan Aceh Tamiang serta Aceh Utara.

Tidak tanggung–tanggung investasi yang ditanam kedua perusahaan tersebut mencapai Rp11 triliun, “Bayangkan wilayah Aceh Timur yang diapit Blok A ini dan dengan cadangan minyak serta gas alam, minimal angka investasinya dari perusahaan tersebut bisa mencapai  11 triliun,” ungkap Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Aceh Timur Syaifannur.

Jumlah nilai yang sangat fantastis di tengah kondisi roda perekonomian pemerintah dan masyarakat Aceh Timur yang terengah-engah, “Namun, perkembangan tersebut jangan dilihat saat ini”, kata Syaifannur seraya menandaskan tetapi perubahan itu akan tiba dengan waktu yang tidak cukup lama yakni 10 -15 tahun kedepan. “Satu hal yang harus kita ingat, untuk mencapai keberhasilan ini tentunya bukan pada orang lain, melainkan kita sendiri baik pemerintah daerah maupun masyarakatnya,” tuturnya.

Tidak salah apa yang dikatakan Syaifannur dengan investasi yang begitu besar terbuka peluang besar untuk mendorong pembangunan di Aceh timur salah satunya dari beroperasinya perusahaan tersebut akan    menyerap tenaga kerja lokal.  “Jika rakyat dulunya pernah mengatakan apakah Aceh Timur beberapa tahun kebelakang penuh masalah,” lanjutnya.

Gas yang terdapat di Aceh Timur nantinya akan disuplai ke Aceh Utara guna memenuhi kebutuhan PT PIM dan beberapa perusahaan lainnya di daerah tersebut dengan menggunakan jalur pemasangan pipa. “Bahkan, gas alam kita tidak sama dengan gas di Aceh Utara,”sebutnya tanpa merincikan letak perbedaan tersebut.

Katanya, dari investasi kedua perusahaan minyak dan gas di Aceh Timur tersebut sepuluh persen harus menjadi milik pemerintah daerah. “Mungkin berkisar Rp1,1 triliun yang akan menjadi asset daerah tentunya melalui Badan Usaha Milih Daerah (BUMD),” tukas Syaifannur.

Menurutnya, apabila ini berhasil di capai dan kondisi daerah yang semakin kondusif, maka persentase peningkatan ekonomi rakyat akan lebih meningkat dari saat ini, salah satunya adalah sektor penganguran. Bila investasi ini berjalan maka tenaga kerja yang diterima bisa mencapai ribuan.

Karena itu, Syaifannur yang saat ini dipercaya sebagai orang ketiga di Pemerintahan Aceh Timur mengharapkan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat agar saling bahu membahu demi tercapainya cita-cita pembangunan diwilayah ini yang dampaknya bisa dirasakan dan dinikmati langsung oleh masyarakat. “Kedepan masyarakat  Aceh Timur dalam perekonomiannya harus lebih maju dari penduduk daerah lainnya baik untuk provinsi Aceh maupun Indonesia umumnya,” pintanya.

Sementara keraguan akan Kabupaten Aceh Timur bisa kembali mencapai kedikjayaannya dalam peningkatan taraf perekonomian masyarakatnya masih menjadi tanda tanya bagi warga di daerah ini, terutama pemuda  yang telah lulus SMA dan kini menganggur, apakah akan diterima bekerja pada perusahaan asing itu.

Belajar pengalaman masa lalu, sebelum konflik Aceh pecah, dimana ketika itu  sebuah perusahaan asing yang bergerak dibidang perminyakan yakni Asamera OiL dalam penerimaan tenaga kerjanya bisa dikatakan masih banyak didatangkan dari luar Aceh Timur.

“Kalau Medco dan Pasific berjalan di Aceh Timur, pemerintah harus berperan akatif dalam rekrutmen tenaga kerja,ya, untuk kerjaan kasarnya kami putra daerah kan bisa bekerja, jika tenaga skil silahkan datangkan dari mana saja kami tidak akan protes,” cetus Yussabri salah seorang warga Kecamatan Ranto Peureulak yang juga berdomisili di kawasan perkantoran PT Pasific.

Ditegaskannya, jangan sampai dengan berdirinya kedua perusahaan itu menimbulkan kesenjangan sosial dimasyarakat, Pemerintah Aceh Timur harus mengambil langkah terbaik dalam penentuan penerimaan tenaga kerja. “Hasil alam tempat kami tinggal dikeruk,masak kami cuma lihat saja,tetapi pakailah kami warga setempat sebagai tenaga kerja,” ujar Yussabri lagi.

Pernyataan senada juga dikatakan Sulaiman (36) warga lainnya dengan menegaskan, jika nantinya dalam penerimaan tenaga kerja pada PT Medco dan Pasific tersebut tidak mengutamakan putra daerah, maka dikhawatirkan akan menjadi bom waktu yang tidak tahu jadwal meledaknya dan berujung kepada runtuhnya rasa kepercayaan pada pemerintah Kabupaten Aceh Timur.

“Bila kondisi ini terjadi, jangan salahkan rakyat, tetapi pemerintah harus bercermin jangan selalu mengatakan bekerja demi kemakmuran rakyat, tetapi kenyataannya hanya menggapai keuntungan pribadi ataupun kelompok tertentu saja,” cetus Sulaiman.

Kini kita hanya berharap gemerincing dana dari blok A tersebut akan mengalir jauh memberikan harapan yang besar kepada masyarakat Aceh Timur, agar asa yang terpendam lama tidak pupus lagi, Semoga.(*/ha/yusri yusuf )

KOMENTAR