Jakarta — Mie bagi masyarakat Indonesia, sudah menjadi makanan kedua setelah nasi. Tak heran, beragam olahan mie dengan citarasanya sendiri menjadi ciri khas beberapa daerah di Indonesia.

Termasuk juga di Aceh yang sangat terkenal dengan mienya. Namun, bagi penikmat mie Aceh, tak perlu jauh-jauh datang ke Aceh, karena di Jl Meruya Ilir No 33 C dan di Jl Anggrek Garuda, Kemanggisan, Jakarta Barat, terdapat Warung Mie Aceh Sabang, yang selama ini terkenal dengan bumbu rempah yang dibawa langsung dari bumi Serambi Mekkah.

Warung yang terkenal dengan mie gorengnya ini cukup tersohor di kalangan penikmat kuliner. Rasa maupun penyajiannya membuat para penikmatnya menjadi ketagihan. Di warung berukuran 10×5 meter yang dihiasi ornamen budaya Aceh, Hashim (34) mengaku telah berjualan sejak sekitar 12 tahun lalu. Warung yang buka pukul 11.00 dan tutup pukul 24.00 ini memang tidak pernah sepi dari pelanggan. Maklum, racikan mienya berbeda dengan racikan pedagang pada umumnya, karena mienya dibuat sendiri dengan menggunakan bahan-bahan alami dan bebas bahan pengawet.

“Proses pembuatan mie dari bahan mentah hingga bahan jadi memakan waktu 2 jam,” ungkap Hashim, Selasa (20/11).

Tiap hari, Hashim mengaku menghabiskan 25 kilogram mie kuning dan bahan mie. Mie buatannya sengaja dibuat tidak terlalu banyak agar bisa habis dalam waktu sehari saja. Sebab, jika lebih sehari rasanya akan tidak enak lagi. “Jika mienya tidak habis dalam sehari akan dibuang atau dimasak untuk makan kita dan pelayan warung,” ucapnya.

Dalam penyajiannya, Hashim selalu menambahkan sejumlah bumbu tradisional racikan sendiri yang didatangkan langsung dari bumi Serambi Mekkah seperti, lada, kunyit, cengkeh, merica, kayu manis, dan beberapa bumbu rahasia lainnya. Dengan campuran sejumlah bumbu tradisional tersebut, mie buatan Hashim sangat terasa aromanya dan membuat mulut ingin segera melahapnya hingga habis.

Terlebih, dengan tambahan potongan daging yang terbilang sangat banyak, plus emping dan potongan acar membuat rasa mie tersebut semakin sangat istimewa. “Ilmu memasak ini warisan dari orang tua. Sekitar 15 bumbu rempah terdapat dalam bumbu buatan saya,” ujarnya.

Soal harga cukup terjangkau. Untuk semangkuk mie goreng, tumis maupun rebus hanya seharga Rp 13 ribu, begitupun nasi goreng hanya dihargai Rp 13 ribu, mie seafood dan nasi goreng kambing Rp 20 ribu. Jika Anda tidak ingin memakan menu yang berat, bisa juga mencoba martabak kari kambing dan roti cane seharga Rp 10 ribu saja. Tentunya dengan ditemani minuman timun serut yang dapat menyejukkan badan seharga Rp 6 ribu rupiah atau segelas teh tarik seharga Rp 8 ribu.

Untuk melayani pelanggan, Hashim biasa dibantu 7 pelayan yang setiap harinya bisa melayani pesanan hingga 300 piring dengan omzet pendapatan Rp 5 juta per harinya.”Kami juga menerima pesanan untuk acara bagi yang berminat,” tandasnya.

Roby (32) salah satu langganan warung Mie Aceh Sabang milik Hashim mengaku, sangat sering makan di warung tersebut saat pulang dari kantor di bilangan Meruya.”Saya tidak perlu pulang kampung, karena masakan di sini seperti masakan orang tua saya di Aceh,” ucapnya. (beritajakarta.com)

KOMENTAR