Meulaboh – Meski memiliki persediaan ternak sejumlah 720 ekor, Pemkab Aceh Barat mengaku tidak mampu menekan tingginya harga Daging. Tradisimeugang yang mengharuskan kepala keluarga membeli daging jelang puasa dan lebaran, ditengarai menjadi penyebab tingginya harga daging.

”Namanya pelaku ekonomi mencuri keuntungan sebesar-sebesarnya tapi jika hingga siang daging masih banyak harga akan turun,” kata Ir Erwin, Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh Barat, Sabtu (7/8/2010)

Di Aceh, katanya, meugang menjadi tradisi sehingga permintaan meningkat. “Ada rasa malu jika tidak membawa pulang daging saatmeugang,”tambah Erwin.

Ia mengatakan, menghadapi Ramadhan dan Idul Fitri 1431 H, Dinas Peternakan sudah memiliki persedian sebanyak 720 ekor ternak sapi. Jumlah itu diperkirakan mencukupi permintaan daging di Aceh Barat. “Untuk Kecamatan Johan Pahlawan dibutuhkan sekitar 300 ekor setiap meugang. Secara keseluruhan kebutuhan kita sebanyak 400 ekor, jadi dengan stok 720 yang kita miliki itu melebihi kebutuhan Aceh Barat,”kata Erwin didampingi Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Armayanti.

Menurutnya, dari 720 ternak yang dipotong sebagian besar merupakan kerbau. Perbandingannya, kata Erwin, 10 sampai 20 persen. Jika ada 300 ekor ternak, maka sapinya sekitar 30 ekor. ”Di Meulaboh masyarakat lebih doyan kerbau ketimbang sapi, tapi bukan berarti sapi tidak dipotong,”katanya.

Selain ternak lokal, lanjutnya, untuk kebutuhan sapi meugang juga didatangkan dari luar Melaboh seperti Sumatera Utara dan Berastagi. Sedangkan sapi luar yang didatangkan oleh pemerintah Aceh dari luar stocknya sudah habis. ”Itu stoknya kita sudah tidak ada karena sudah habis tahun lalu,”ujarnya.

Di sisi lain, Erwin mengatakan setiap tahunnya Aceh Barat membutuhkan 3000 ternak. Jumlah tersebut untuk memenuhi kebutuhan di hari-hari biasa, meugang dan kebutuhan Qurban. ”Untuk mengatasi kelangkaan sapi jenis lokal, kami telah mengadakan program percepatan Pemberdayaan Swasembada Daging Sapi (P2SDS),”katanya.

Melalui program itu diharap warga tidak memotong sapi betina karena mengurangi populasi sapi lokal. “Sebelumnya kita telah menjalankan program tersebut, tapi karena targetnya tidak tercapai kita dinaikkan sampai 2014,”jelasnya.

Sementara itu Kepala Bidang Kesehatan Hewan (keswan) Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh Barat, Armayanti, mengatakan aktivitas pemotongan akan dilakukan mulai Senin (9/8) besok. Dikatakan pihaknya telah menyediakan 250 tempat gantung untuk masyarakat di pasar Bina Usaha Meulaboh.

“Setelah memenuhi persyaratan pemotongan akan kita lakukan di Rumah Potong Hewan (RPH). Sejauh ini kita tidak menemukan virus antrak, tapi kebanyakan jenis Septicemia Evizootika (SE) yang disebabkan oleh bakteri,”ujarnya.

Armayati mengaku kesulitan karena Rumah Potong Hewan (PRH) yang dimiliki saat ini tidak layak lagi. “RPH kita sekarang hanya memiliki dua katrol, sehingga hanya mampu memotong 30 ekor sapi per harinya,”pungkasnya.

Sementara itu, dari pantauan di beberapa lokasi penjualan, harga daging belum menunjukkan kenaikan. Said Wan, 37, seorang pedagang daging mengatakan belum menaikkan harga. “Hari ini harga daging masih seperti biasa antara Rp75 ribu hingga Rp80 ribu perkilogram. Harga baru kita naikkan di hari meugang dan biasanya mencapai Rp120 rb perkilo,”ujarnya.(*/ha/cak)

KOMENTAR