Lewat makanan, dua bangsa yang berbeda bisa saling bertukar kebudayaan. Dubes Iran untuk Indonesia, Mahmoud Farazandeh, yang baru bertugas 6 bulan di Indonesia, mengaku terpikat dengan berbagai makanan lezat, keindahan alam dan keramahan rakyat Indonesia.

Dalam obrolan santai di kantornya, Jl HOS Cokroaminoto, Menteng, Jakarta, beberapa waktu lalu, Farazandeh mengungkapkan kegemarannya dengan aneka makanan di Indonesia. “Saya suka nasi goreng. Lama-lama saya bisa tambah berat badan karena makanan berminyak,” ujar Farazandeh sambil tertawa.

Tidak hanya makanan, banyak buah-buahan dan sayuran Indonesia yang digemari Farazandeh. Minuman segar khas Indonesia pun memikat hatinya. “Saya juga suka kelapa muda,” ujarnya.

Bicara soal minuman khas Indonesia, Farazandeh juga tahu soal Kopi Luwak yang harganya selangit di New York, AS. Namun setelah tahu bagaimana kopi ini dibuat, Farazandeh, jadi pikir-pikir untuk minum Kopi Luwak. Walaupun, Majelis Ulama Indonesia (MUI) membolehkan Kopi Luwak diminum. “Kan tidak semua yang halal, harus kita coba,” kata dia.

Meski demikian, ada kopi Indonesia yang disukai Farazandeh, yaitu Kopi Aceh. “Kopi Aceh sangat enak, aroma dan rasanya lebih baik dari kopi lain,” puji Farazandeh.

Selama setengah tahun bertugas di Jakarta, Farazandeh pun terpikat dengan keindahan alam Indonesia. Hal pertama yang diingatnya adalah angin sepoi-sepoi dan hujan. Farazandeh pun mengatakan pernah dua kali ke Yogyakarta dan melihat Gunung Merapi. Pemandangan alam Indonesia menurutnya luar biasa. “Negeri kalian diberkati Allah. Pemandangannya indah, tanahnya subur dan kaya dengan sumber daya alam,” kata dia.

Bahkan, Farazandeh pun terpesona dengan sikap orang Indonesia. Orang Indonesia yang ditemuinya tidak hanya sopan dan ramah, namun mereka juga selalu menerima orang baru dengan hati terbuka, sehingga Farazandeh tidak merasa asing. Farazandeh pun tahu betapa Presiden Mahmoud Ahmadinejad disambut meriah saat berkunjung ke Indonesia. “Kalian sangat toleran dalam hidup dan sikapnya tegas soal pandangan kalian terhadap situasi di dunia,” jelas Farazandeh.

Oleh karena itu, Farazandeh ingin agar ada lebih banyak kontak antara rakyat kedua negara. Selama ini hanya ada sekitar 150 orang Iran di Indonesia yang kebanyakan bekerja dan sedikit mahasiswa. Farazandeh ingin lebih banyak mahasiswa Iran belajar di Indonesia, namun bahasa menjadi kendala. “Namun saya tahu banyak universitas di Indonesia sudah membuka kelas internasional, tentu itu akan memudahkan jika ada mahasiswa Iran yang ingin belajar,” tutupnya.(dtc)

KOMENTAR