Tel Aviv — Seorang kandidat PM Israel telah memicu kemarahan karena menyerukan peledakan Masjid Al-Aqsha. Rencana mereka, setelah masjid suci ketiga bagi umat Muslim itu dihancurkan, mereka akan segera membangun Kuil Solomon atau yang juga dikenal kalangan Islam dengan Haikal Sulaiman (The Solomon Temple) di atas reruntuhan masjid tersebut.

“Ini tantangan serius dan seruan provokatif bagi seluruh umat Muslim. Dome of the Rock dan seluruh kompleks Al-Aqsa (Al Haram Al Sharif) adalah lebih besar dan murni ketimbang dimanfaatkan untuk tujuan politik dan kemenangan pemilu,” ujar Sheikh Yousuf Dowais, ketua Dewan Yudisial Syariah Tertinggi Palestina.

Israel akan menggelar pemilu parlemen pada Selasa 22 Januari untuk memilih anggota baru Knesset. Jajak pendapat menunjukkan koalisi pimpinan PM Benjamin Netanyahu bakal menjadi kubu terbesar di Knesset.

Namun tiga hari sebelum pemilu, sebuah rekaman video Jeremy Gimpel, anggota kelompok partai kanan jauh Habayit Hayehudi (Yahudi Pulang) beredar yang isinya seruan untuk penghancuran Masjid Al-Aqsa.

Al-Aqsa adalah kiblat pertama umat Muslim dan tempat suci ketiga terbesar setelah Kabah di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi. Tempat ini sangat penting karena menjadi awal perjalanan Nabi Muhammad SAW melakukan Isra’ Mi’raj.

Orang Yahudi mengklaim Kuil Solomon ada di bawah Masjid Al-Aqsa dan ingin menghancurkan masjid itu untuk membangun kuil mereka.

Klaim Sepihak

Haikal Sulaiman diyakini dibangun tahun 960 SM oleh Nabi Sulaiman a.s, 370 tahun kemudian bangsa Babylonia menginvasi Yerusalem dan menghancurkan kuil tersebut. Setelah itu, tentara Persia yang dipimpin Cyrus merebut Yerusalem dari tangan Babylonia dan membangun kembali Haikal Sulaiman. Tetapi tahun 70 M, pasukan Romawi menyerang Yerusalem dan menghancurkan kembali Haikal Sulaiman rata dengan tanah.

Abad demi abad terus berjalan, cita-cita kaum Zionis-Yahudi untuk membangun kembali Haikal Sulaiman terus terpelihara dengan baik di dalam memori bangsanya. Ketika gerakan Zionisme Internasional menyelenggarakan kongresnya yang pertama di Bassel, Swiss, tahun 1897, memori ini menemukan momentumnya dan Theodore Hertzl menyerukan agar semua Yahudi Diaspora berbondong-bondong memenuhi Tanah Palestina yang disebutnya sebagai Tanah Perjanjian.

Atas klaim sepihak, kaum Zionis ini mengatakan bahwa di bawah tanah Masjidil Aqsha inilah Haikal Sulaiman berdiri. Sebab itu, mereka mengatakan tidak ada pilihan lain kecuali menghancurkan Masjidil Aqsha dan kemudian membangun kembali Haikal Sulaiman di atasnya.

Bagi kaum Zionis, Haikal Sulaiman merupakan pusat dari dunia. Bukan Makkah, bukan pula Vatikan. Haikal Sulaiman-lah pusat seluruh kepercayaan dan pemerintahan segala bangsa. Keyakinan ini bukanlah berangkat tanpa landasan.

Dalam keyakinan Yudaisme yang sesungguhnya telah bergeser jauh dari Taurat yang dibawa oleh Musa a. S., bangsa Yahudi meyakini bahwa di suatu hari nanti seorang Messiah (The Christ) akan mengangkat derajat dan kedudukan bangsa Yahudi menjadi pemimpin dunia.

Mengutuk

Sheikh Yousuf Dowais, ketua Dewan Yudisial Syariah Tertinggi Palestina langsung mengutuk seruan penghancuran Al Aqsa sebagai bagian dari agresi sistematik Israel untuk menghancurkan sejumlah tempat suci umat Muslim dan Kristen di tanah pendudukan Palestina. Menurutnya, penyelamatan Yerusalem adalah kewajiban rejilius dasar bagi setiap orang Arab dan Muslim di seluruh dunia.

Seruan itu memicu kemarahan di kalangan dalam Israel. Mantan Menlu Tzipi Livni, pemimpin Partai Hatnua, mengajukan petisi untuk melarang Gimpel ikut dalam pemilu besok. Kecaman juga datang dari Yoel Hasson, seorang anggota Knesset.

Namun Gimpel berkilah bahwa ia hanya bercanda. Menurutnya, seruan itu dilakukan saat ia memberikan kuliah kepada sekelompok orang Kristen ketika ia sedang mengajar tentang buku Ezra, sebuah kisah yang terjadi lebih dari 2.000 tahun lalu. Ia sengaja membuat gurauan agar terlihat menarik.

Al-Quds adalah tempat lokasi Al-Haram Al-Sharif, yang di dalamnya termasuk Masjid Al-Aqsa, dan menjadi konflik utama antara bangsa Arab dan Israel. Israel menduduki kota suci ini dalam perang tahun 1967 dan kemudian mencaploknya dalam tindakan yang tidak diakui dunia atau resolusi PBB.

Sejak itu, Israel melakukan berbagai langkah penindasan untuk memaksa orang Palestina ke luar dari kota itu, termasuk penghancuran sistematis rumah mereka dan membangun permukiman Yahudi yang baru. (harianterbit.com)

KOMENTAR